REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Pintu masuk Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, kembali ditutup oleh warga pada Kamis (23/6) pukul 11.00 WIB. Beberapa truk sampah tampak menunggu di jalan menuju pintu masuk lantaran tidak dapat membuang sampah yang dibawa dari DKI Jakarta.
Setelah ditutup pada Rabu (22/6) pukul 11.00 siang kemarin, pintu masuk TPST Bantargebang sempat kembali dibuka pada pukul 00.00 dini hari tadi. Warga sepakat pintu masuk TPST hanya akan dibuka mulai pukul 00.00 sampai tonase sampah mencapai 2.000 ton. Selepas itu, akses menuju lokasi penimbangan sampah yang juga pintu utama truk sampah bakal ditutup.
"Ini belum bisa buang. Pintu sudah ditutup," kata sopir truk sampah asal Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, Toba (42 tahun), kepada Republika.co.id, Kamis (23/6). Toba menuturkan, pintu masuk truk kembali ditutup pada pukul 11.00 WIB. Truknya datang tak berapa lama setelah pintu ditutup sehingga tidak dapat membuang sampah.
Toba pun kini masih menunggu di salah satu warung kopi di dekat TPST Bantargebang. Beberapa truk lain menunggu di pinggir jalan. Apabila pintu TPST Bantargebang dibuka, ia akan membawa masuk truk untuk membuang sampah. Namun, apabila sampai sore pintu masuk tidak dibuka, sampah terpaksa dia bawa kembali ke Jakarta. Truk yang dia kemudikan membawa kurang lebih enam ton sampah DKI Jakarta.
Baca juga, Volume Sampah di Bantargebang Menyalahi Kontrak Kerja.
Menurut Toba, para sopir truk DKI Jakarta sudah mengantisipasi sehingga hanya tampak beberapa truk sampah yang mengantre di lokasi TPST. Sebagian besar truk sampah memilih menahan diri tidak membawa sampahnya ke TPST Bantargebang setelah memperkirakan waktu penutupan. Apabila truk sampah diperkirakan tidak bisa sampai ke lokasi TPST pukul 11.00, mereka memilih menahannya di Jakarta.
Aksi penutupan pintu masuk TPST Bantargebang sudah berlangsung selama dua hari. Toba memperkirakan, penumpukan sampah akan mulai terjadi apabila masalah tidak diselesaikan. Tonase sampah yang masuk ke Bantargebang setiap hari bisa mencapai 7.000 ton, sedangkan yang diterima warga hanya 2.000 ton. Hingga kini, kata Toba, para sopir belum mendapat instruksi apa-apa dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta.