Kamis 19 May 2016 21:50 WIB

Harga Beras di Gunung Kidul Merangkak Naik

Warga memilih jenis beras di salah satu gudang beras di Jakarta, Senin (11/4).   (Republika/Tahta Aidilla)
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Warga memilih jenis beras di salah satu gudang beras di Jakarta, Senin (11/4). (Republika/Tahta Aidilla)

REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNG KIDUL -- Harga beras di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami kenaikan karena enurunan pasokan dari pengepul dalam beberapa hari terakhir.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Argosari Gunung Kidul Tukino di Gunung Kidul, Kamis (19/5), mengaku harga beras di Gunung Kidul mulai mengalami kenaikan sebesar Rp 100 - Rp 200 per kilogram.

"Hal tersebut dikarenakan harga gabah kering yang ikut naik di sejumlah tempat penggilingan. Harga beras mengalami kenaikan namun masih kecil," kata Tukino.

Ia mengatakan harga beras kualitas bagus, saat ini dijual dengan harga Rp11.000 dari sebelumnya Rp 10.800.

"Harga beras dengan kualitas sedang rata-rata dijual dengan harga Rp 8.000-Rp10.000 tergantung jenis dan merk beras," katanya.

Selain kenaikan harga yang ada, pihaknya mengaku sudah sejak dua minggu terakhir kesulitan untuk menyetok beras ada guna mempersiapkan bulan ramadhan.

"Saya itu biasanya menyetok beras, hanya saja sejak dua Minggu ini para tengkulak sedikit lambat memberikan pasokan beras, jika biasanya tiga hari stok beras sudah datang namun kali ini harus menunggu hingga satu minggu," ungkapnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah agar bisa mengambil sikap atas kenaikan harga beras. Dari pengalamannya berjualan beras pihaknya mengalami penurunan jumlah pembeli setiap kali harga beras naik. "Jadi kalau boleh minta tolong harga jangan sampai naik," jelasnya.

Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional DIY memastikan stok beras menjelang puasa dan Idul fitri. Selain itu Bulog juga sudah melakukan serapan beras dari petani di DIY.

Kepala Bulog Divre DIY Sugit Tedjo Mulyono mengungkapkan stok beras beras di DIY cukup hingga pertengahan Januari 2017. Dimana stoknya mencapai 32,5 ribu ton. "Stoknya hingga pertengahan Januari 2017, sehingga cukup aman," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement