Kamis 21 Apr 2016 10:01 WIB

Meluruskan Kembali Hakikat Perjuangan Gerakan Perempuan

dr.Ni Nyoman Indirawati
Foto: dok pri
dr.Ni Nyoman Indirawati

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: dr.Ni Nyoman Indirawati (Kepala Bidang Perempuan Pengurus Pusat KAMMI)

Tepat tanggal 21 April, seorang pahlawan bangsa bernama Kartini lahir. Buah hati pasangan priyayi Jawa Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah lahir tidak lama sebelum ayahnya diangkat menjadi Bupati Jepara saat itu.

Kartini, perempuan yang mampu berfikir kritis melampaui usianya, perempuan yang mampu memberikan kritik lewat surat-suratnya, dan perempuan yang mampu mengaktualasikan gagasannya lewat berbagai gerakannya. Hingga saat ini, hari lahirnya pun masih diperingati sebagai Hari Kartini yang selalu dirayakannya setiap tahunnya.

Spirit perjuangan Kartini membawa spirit sendiri kepada gerakan perempuan di Indonesia hingga saat ini. Perjuangannya dalam memberikan kritik dan mengaktualisasikan gagasannya selalu menjadi inspirasi tersendiri untuk para perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Namun, perlu kita ingat kembali apakah Kartini hanya memperjuangkan hak perempuan agar disetarakan dengan laki-laki seperti yang digembar-gemborkan saat ini?

Mari kita ingat kembali bahwa spirit perjuangan Kartini mulai tumbuh ketika Beliau usia 12 tahun dimana Beliau sudah mulai dipingit. Beliau melihat bahwa ada kesenjangan  dimana perempuan di usia tersebut harus dipingit hingga saatnya mereka menikah. Padahal melihat kondisi bangsanya yang masih terjajah, Kartini menyadari bahwa perbaikan bangsa harus dimulai dari perbaikan perempuan-perempuannya. 

Mengutip salah satu cuplikan surat Kartini tertanggal 4 Oktober 1902 kepada sahabatnya Prof Anton dan istrinya bahwa, “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi karena Kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

Dari surat tersebut dapat disimpulkan bahwa Kartini memahami bahwa Perempuan mempunyai fungsi strategis dalam perannya sebagai Ibu Biologis yang mendidik generasi bangsa serta sebagai Ibu Bangsa yang memiliki peran untuk membantu bangsa terlepas dari ketergantungan para penjajah. Oleh karena itu karena 

kegelisahannya, beliau tidak hanya menulis, tetapi beliau juga mendirikan sekolah perempuan dan mengajarkan mereka secara langsung. Selain mendirikan sekolah perempuan, Beliau pun melakukan pemberdayaan ekonomi kepada perempuan dan pemberdayaan pengrajin ukir Jepara baik laki-laki maupun perempuan agar bangsanya mampu mandiri dan terbebas dari penjajah.

Disamping itu, Kartini pun mengajarkan kepada perempuan Indonesia bahwa tugas perempuan yang lain juga menjadi seorang istri untuk suaminya. Tak heran jika salah satu Sejarawan, Bpk Jazir ASP dalam sebuah Focus Group Discussion mengatakan bahwa “Saat itu Kartini mendapatkan Beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Belanda, namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, menjadi istri dan mengabdi untuk rakyatnya” Walaupun saat itu Beliau bukan menjadi istri tunggal namun beliau sangat memahami dan menjalankan perannya sebagai istri.

Melihat berbagai perjuangannya kita dapat memahami bahwa Kartini memang seorang perempuan, tapi ia tidak hanya memperjuangkan hak perempuan. Beliau memperjuangkan hal-hal mendasar yang sepatutnya dimiliki Bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang Merdeka, salah satunya pendidikan dan kemandirian agar bangsanya mampu terbebas dari penjajah. 

Beliau yang saat itu mampu memahami peran strategis perempuan sebagai pendidik pertama, beliau yang saat itu sadar bahwa untuk menciptakan generasi terbaik, maka perempuan Indonesia harus cerdas dan terpenuhi kesejahteraannya. Beliau pula lah yang saat itu mampu berfikir jauh kedepan bahwa untuk memperbaiki kondisi bangsa harus dimulai dengan memperbaiki dan mendidik perempuan-perempunnya.

Lalu, masihkah kita berasumsi bahwa seorang pahlawan yang begitu hebat ini hanya memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara dengan laki-laki?

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement