Sabtu 09 Apr 2016 18:58 WIB

Mesin Sewaan PLN tak Maksimal Suplai Daya

Seorang anak belajar dengan bantuan penerangan lilin saat terjadi pemadaman listrik di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (11/3).
Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Seorang anak belajar dengan bantuan penerangan lilin saat terjadi pemadaman listrik di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (11/3).

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Seluruh mesin pembangkit yang disewa PT PLN Area Palu dari tiga perusahaan penyediaan jasa tidak maksimal dalam menyuplai daya ke sistem kelistrikan Palu sesuai kontrak. Hal ini mengakibatkan krisis listrik di daerah itu tak kunjung berakhir.

"Semuanya sudah dipenalti (denda) oleh PLN," kata Manager PLTD Silae Jatmika Gandamana di sela kunjungan wartawan yang menggelar 'press tour' ke pusat pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Silae di Palu, Sabtu (/4).

Jatmika mengatakan sebetulnya dirinya tidak memiliki kewenangan memberikan keterangan kepada media terkait penyewaan mesin PLN tersebut tetapi karena banyaknya pertanyaan masyarakat terkait kondisi kelistrikan Palu dalam dua bulan terakhir, Jatmika pun bersedia memberikan keterangan.

Dia mengatakan suplai daya yang diharapkan dari penyewaan mesin tersebut sekitar 30 megawatt, tetapi kenyataannya tidak sebesar itu. "Dalam kontrak ada yang siap suplai 10 megawatt, tetapi mampunya kurang dari itu," katanya.

Tiga perusahaan yang menjadi mitra PLN dalam penyewaan diesel tersebut yakni PT Central Power Indonesia (CPI) sebesar 20 megawatt, PT Kencana Jaya 10 megawatt dan PT Kutilang Paksi Mas sembilan megawatt. Dia mengatakan mestinya sebagai perusahaan bonafid yang bergerak di bidang kelistrikan, perusahaan tersebut menyuplai sesuai kontrak.

Jatmika mengatakan mesin sewaan tersebut tersebar di sejumlah tempat dan sebagian di kawasan PLTD Silae. Dalam agenda kunjungan jurnalistik yang digagas Indonesia Development Engineering Colsultan/IDEC, Jatmika memberikan kesempatan kepada wartawan melihat langsung kondisi pembangkit di PLTD Silae.

Dari 10 unit diesel di pusat pembangkit Silae tersebut saat ini hanya tiga yang beroperasi dengan total daya sekitar 19 megawatt. Satu di antara pembangkit tersebut sudah rusak berat sehingga sudah beberapa tahun tidak dioperasikan lagi sementara dua lainnya dalam proses penanganan. Usia mesin tersebut sudah puluhan tahun. Tujuh unit mesin diadakan tahun 1985. Dua mesin diadakan tahun 1992 dan satu unit mesin diadakan 1997.

Krisis listrik dalam dua bulan terakhir terus melanda Kota Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi menyusul terhentinya suplai dari PLTU Mpanau sebesar 2x15 megawatt karena memasuki masa pemeliharaan.

Saat PLTD Silae dan PLTU serta suplai PLTA Sulewana beroperasi normal Area Palu, Sigi dan Donggala masih devisit 17 megawatt dari beban puncak 72,8 megawatt. Dengan dihentikannya sementara suplai PLTU Mpanau, maka kelistrikan Palu devisit sekitar 40 megawatt.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement