Jumat 12 Feb 2016 09:26 WIB

Tim ITS Siap Teliti Sumur Baru Lapindo

Rep: Binti Sholikah/ Red: Dwi Murdaningsih
Sejumlah pekerja dengan menggunakan alat berat mengurai lumpur di pusat semburan lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo
Foto: Antara
Sejumlah pekerja dengan menggunakan alat berat mengurai lumpur di pusat semburan lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Tim Kajian Kelayakan Teknis dan Sosial segera mengkaji kelayakan pengeboran sumur baru Lapindo Brantas Inc di wilayah Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Tim yang dibawahi oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur tersebut akan mulai bekerja pada Februari 2016 ini.

Pengkajian akan dilakukan selama tiga bulan dan dipimpin oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Adi Soeprijanto.

Ketua Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS, Amien Widodo, mengatakan, penelitian dan pengkajian tersebut melibatkan lebih dari 40 peneliti asal ITS yang terbagi atas empat tim. “Kami akan terjun langsung ke lapangan untuk mengkaji secara teknis dan persepsi sosial masyarakat di sekitar lokasi pengeboran,” kata Amien melalui siaran pers, Kamis (11/2).

Dosen Teknik Geofisika ITS tersebut menjelaskan, sebagian besar peneliti akan fokus pada pengukuran persepsi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar yang terkena dampak dari pengeboran tersebut. Sedangkan tiga tim lainnya yakni, tim geomatika untuk mengukur kondisi penurunan tanah, tim geofisika untuk melihat retakan di bawah tanah, dan tim analisis risiko.

Nantinya, hasil penelitian berupa mitigasi yang akan memunculkan analisis risiko. Sehingga bisa diketahui tingkat ancaman di daerah tersebut. “Jika risikonya tinggi, kita cari cara untuk menurunkannya. Kalau memang sudah tidak bisa diatasi, pengeboran tidak bisa dilakukan di sana,” ungkapnya.

Amien menyatakan, tim pengkajian telah siap untuk mendatangi lokasi titik pengeboran di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin tersebut. Tim pengkajian tengah menyiapkan alat dan tinggal menunggu perintah dari Gubernur Jawa Timur.

Menurutnya, penelitian tersebut sangat penting bagi keberlangsungan pengeboran sumur baru Lapindo ke depan. Hasil penelitian tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan pemerintah pusat dalam memutuskan pengeboran akan dilanjutkan atau tidak.

Saat ini, rencana pengeboran sumur baru Lapindo Brantas Inc telah menuai protes dari masyarakat sekitar. Sehingga, untuk sementara aktivitas pengeboran dihentikan. Protes dilakukan warga karena trauma terhadap semburan lumpur pada 2006 yang mengakibatkan ribuan rumah tenggelam.  

Amien Widodo menyatakan pengeboran yang akan dilakukan di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo tersebut memiliki risiko yang tinggi jika tidak diteliti kembali terlebih dahulu.

Amien mengaku mengetahui kondisi lokasi pengeboran yang letaknya hanya 2,5 kilometer di sebelah utara dari pusat semburan gas dan lumpur Porong tersebut. Pasalnya, ia pernah terlibat dalam tim bentukan Gubernur Jawa Timur untuk meneliti tanggul bagian luar secara intensif pada 2008 dan 2010.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement