Rabu 03 Feb 2016 11:35 WIB

Penderita DBD di Makassar Meningkat

Pasien DBD di RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur
Foto: ROL
Pasien DBD di RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Pihak Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar, Sulawesi Selatan, mengakui ada peningkatan kasus penderita DBD di rumah sakit itu sepanjang Januari 2016.

Direktur Utama RSWS, Dr dr Khalid Saleh di Makassar, Rabu, mengatakan jika penderita penyakit demam berdarah (DBD) sejak September hingga Desember 2015 hanya berkisar antara 13-17 penderita tapi untuk Januari justru mencapai 47 penderita.

"Ada 47 penderita DBD pada Januari 2016 yang terdiri dari rawat jalan (lima pasien), rawan inap (40 pasien) serta dua orang yang berada di gawat darurat," jelas dia.

Mengenai peningkatan itu, ia mengaku belum terlalu mengetahui penyebabnya. Ia juga menyatakan jika kondisi cuaca tidak lagi menjadi penyebab utama munculnya penderita DBD di Makassar.

Hal itu bisa dilihat dari jumlah pasien yang selalu saja ada sepanjang tahun atau segala musim. Ini juga menjadi sebuah fenomena yang patut diwaspadai, katanya. Ia menjelaskan, untuk pertengahan tahun yakni Maret hingga Mei memang biasanya terjadi peningkatan jumlah penderita. Namun saat akhir-akhir tahun mengalami penurunan.

"Pada September itu ada 17 penderita, selanjutnya Oktober hingga Desember 2015 berkisar diangka 13 penderita. Untuk Februari ini, kita akan lihat apakah juga terus mengalami kenaikan atau penurunan," ujar dia.

Namun kondisi di daerah, kata dia, saat ini memang dari informasi media menyebutkan terus mengalami kenaikan. Kondisi ini tentu harus disikapi dengan serius karena bisa mengakibatkan kematian.

Pihaknya juga mengaku sudah menyiapkan antisipasi terhadap kemungkinan makin maraknya penderita DBD kedepan. Pihak rumah sakit juga telah menyiagakan sejumlah dokter di ruang gawat darurat untuk memberikan pengobatan bagi setiap pasien yang datang. Ini juga sebagai respon peningkatan penderita disejumlah daerah di Sulsel.

"Jangan anggap enteng masalah ini (DBD) karena bisa menimbulkan kematian. Untuk fase dua dan tiga justru banyak yang meninggal dunia, sehingga harus menjadi fokus kita bersama," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement