Selasa 02 Feb 2016 17:02 WIB

Kabupaten Tangerang Waspada Siklus Tiga Tahunan DBD

Rep: C35/ Red: Winda Destiana Putri
Fogging nyamuk dbd
Foto: Antara
Fogging nyamuk dbd

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Angka pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) Kabupaten Tangerang pada tahun ini naik dua kali lipat dari tahun 2015 lalu.

Naniek, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menyatakan saat ini Kabupaten Tangerang sedang mewaspadai siklus tiga tahunan penyerangan DBD pada tahun ini.

"Penyakit DBD memuncak terakhir pada tahun 2013, sehingga diperkirakan pada tahun 2016 angka pasien DBD akan kembali naik. Hal itu sudah kami antisipasi sejak 2015 lalu," katanya kepada Republika, di Tangerang, Selasa (2/2).

Pada tahun ini, hingga 31 Januari tercatat 270 pasien terserang penyakit DBD. Sementara sudah 13 pasien yang meninggal dunia akibat penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti itu. Menurut Naniek, angka itu meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan angka pasien DBD pada Januari 2015. Sehingga dapat dikatakan perkiraan siklus tahunan itu benar-benar terjadi pada tahun ini.

Sebagai upaya antisipasi, Naniek menjelaskan, Dinas Kesehatan sudah melakukan fogging massal pada Oktober 2015 lalu. Fogging massal tersebut dilaksanakan di 17 titik rawan penyebaran nyamuk Aedes Aegypti. Selain itu, masyarakat juga selalu diberikan penyuluhan mengenai kewaspadaan datangnya siklus tiga tahunan penyakit DBD tersebut.

"Upaya pencegahan ini perlu komitmen dari semua elemen masyarakat. Karena sampah ada di mana-mana. Sedangkan upaya yang paling efektif untuk mencegah DBD adalah menajga kesehatan. Karena fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya," ujarnya.

Menurut Naniek, siklus hidup jentik nyamuk lebih panjang daripada nyamuk dewasa. Sehingga jika yang dibunuh hanya nyamuk dewasanya saja, maka jentik nyamuk tetap bisa segera tumbuh dan menjadi nyamuk dewasa yang dapat menyebarkan penyakit DBD tersebut.

Oleh karena itulah pencegahan adanya sarang nyamuk dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan jauh lebih efektif daripada fogging.

Selain itu, ucap Naniek, fogging tidak dapat dilakukan sembarangan. Sebelum diputuskan untuk dilakukan fogging harus dipastikan terlebih dahulu apakah si pasien memang digigit nyamuk berbahaya tersebut ketika di rumah. Karena bisa saja pasien tertular penyakit DBD ketika di tempat aktifitas mereka, seperti kantor maupun sekolah.

Sehingga, untuk melakukan fogging fokus nyamuk Aedes Aegypti perlu adanya tes Epidemiologi. Tes epidemiologi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penderita DB yang lain atau menemukan tersangka DBD dan melaksanakan pemeriksaan jentik pada radius 100 meter dari penderita.

Sebelumnya, Bupati Ahmed Zaki Iskandar juga sudah menyebarkan surat edaran kepada masyarakat melalui RT dan sekolah-sekolah untuk senantiasa melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Mereka juga rutin mengadakan penyuluhan terutama untuk mengajarkan kepada masyarakat agar bisa menjadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di rumahnya masing-masing.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement