REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNG KIDUL -- Perajin topeng di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengeluhkan penurunan omzet akibat pelemahan ekonomi 2015.
Salah seorang perajin di Dusun Widoro Wetan, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Bagya di Gunung Kidul, Minggu, mengatakan pihaknya merasakan penurunan order sebesar 50 persen sejak akhir 2015.
"Biasanya jumlah pesanan minimal 200 biji topeng, saat ini hanya sekitar 100-an biji perbulan," kata Bagyo.
Ia mengatakan penurunan pesanan pembelian topeng kayu dari berbagai kota di Indonesia seperti Bali, Yogyakarta, Jakarta dan Surabaya berpengaruh terhadap usahanya. Hal ini karena semakin menurunnya permintaan dari pelanggan. Namun dirinya tetap membiayai karyawannya.
"Kalau kondisi ini tidak segera berakhir, maka usaha kami ke depan mengalami masa suram," katanya.
Bagya menduga sepinya permintaan sejak akhir 2015, kemungkinan karena terjadinya pelemahan ekonomi sehingga wisatawan pun mengurangi belanjanya.
"Sepinya orderan juga terjadi pada perajin lain," katanya.
Perajin lainnya Tukiran mengatakan kondisi yang sama. Untuk menyikapi kondisi ini ia mengaku mengerjakan kerajinan patung kayu sesuai pesanan pembeli. "Kami juga mengerjakan patung kayu," katanya.




