REPUBLIKA.CO.ID, POSO - Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah memastikan kelompok teroris pimpinan Santoso alias Abu Wardah yang menjadi target perburuan aparat gabungan Polri-TNI di Poso saat ini mendapat bantuan pendanaan dari kelompok ISIS.
Data aliran dana tersebut ditemukan polisi pascakontak senjata antara aparat gabungan Polti/TNI di Desa Tounca, Kecamatan Padalembara, Kabupaten Poso, pada Jumat (15/1), yang mengakibatkan seorang teroris tewas.
Kepala Operasi Daerah Tinombala 2016 Kombes Pol Leo Bona Lubis mengatakan, di Poso, Kamis, pihaknya belum dapat menyebutkan secara perinci besaran dana dan bagaimana penyaluran dana tersebut. Namun, pihaknya memastikan dana ISIS tersebut masuk ke kelompok Santoso.
Menurut dia, dana ke jaringan Santoso tersebut masuk secara pelan-pelan dan berkesinambungan, mulai dari kisaran Rp 2 juta dalam beberapa kali pengiriman melalui yayasan dan rekening perseorangan.
"Memang ada dana ISIS yang selama ini masuk ke kelompok Santoso dengan sistem penyaluran melalui bank dan perseorangan," ungkapnya.
Leo menambahkan, selain berhasil mengungkap aliran dana ISIS, pihaknya juga menemukan sejumlah dokumen penting serta petunjuk baru dari kontak senjata terakhir. Dari dokumen tersebut, terungkap adanya rencana kegiatan serta struktur baru kelompok Santoso pascatewasnya Daeng Koro.
"Berdasarkan dokumen yang ada, kelompok tersebut masih ada di dalam hutan di Poso," ujarnya.
Pihak kepolisian sendiri mengakui banyak kendala yang dihadapi untuk menangkap kelompok radikal tersebut. Selain faktor alam dan kondisi medan, kelompok tersebut sudah lama hidup di hutan dan lebih mengenal lokasi sehingga memudahkan mereka untuk bersembunyi menghindari aparat.