Ahad 01 Nov 2015 17:10 WIB

Diduga Tercemar Kualitas Air Sungai Jatijajar Terus Menurun

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Julkifli Marbun
ilustrasi
Foto: pixabay
ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Upaya pengawasan terhadap kelestarian sungai di wilayah Kabupaten Semarang terus dipertanyakan. Hal ini tak lepas dari banyaknya industri yang ada di daerah ini.

 

Yang teranyar, warga sejumlah desa di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menyoal terus merosotnya kualitas air sungai Jatijajar, yang mengalir di wilayah mereka.

 

Menurunnya kualitas air sungai tersebut –diduga kuat-- telah tercemar oleh aktivitas sejumlah pabrik yang ada di kawasan hulu. Akibatnya, warga tak dapat memanfaatkan air sungai ini.

 

“Baik sekedar untuk mencuci pakaian maupun untuk kebutuhan irigasi pertanian,” ungkap Nurkholis (45), salah seorang warga Desa Jatijajar, Kecamatan Bergas, Ahad (1/11).    

 

Ia menjelaskan, perihal menurunnya kualitas air sungai Jatijajar ini sudah beberapa kali diprotes warga di desanya. Karena air sungai tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh warga.

 

Selain warnanya keruh dan berbau, air sungai ini juga mengakibatkan gatal di kulit jika digunakan untuk mandi. Kondisi air sungai seperti ini sudah berlangsung hampir dua tahun terakhir.

 

Kadang warna airnya hitam keruh, namun terkadang juga relatif bening tapi mengandung buih. “Makanya, warga tak bisa memanfaatkan air sungai ini lagi,” lanjut warga RT 02/ RW 05 ini.

 

Hal yang sama diakui Anwar (36), warga Desa Jatijajar lainnya. Sebelumnya air sungai Jatijajar ini jamak dimanfaatkan warga desa untuk berbagai kebutuhan. Seperti mandi, mencuci pakaian, untuk irigasi dan budi daya perikanan.

 

Bahkan, setiap menjelang Ramadhan, air sungai yang masih bersih jamak dimanfaatkan warga untuk cuci karpet mushala dan masjid yang ada di sekitarnya. “Namun aktivitas ini sudah tidak dapat dilakukan lagi akibat kualitas air sungai yang kian merosot,” tegasnya.

 

Bahkan sejumlah petani yang memanfaatkan air sungai ini juga mengaku hasil tanakannya tidak dapat maksimal lagi. Karena warna air yang mengaliri sawahnya sudah berubah.

 

Sebagian warga, tambahnya, sudah menyikapi persoalan lingkungan ini melalui perangkat desa setempat. Namun upaya untuk menyikapi permasalahan ini jalan di tempat.

 

Terakhir, kami melaporkan persoalan ini kepada Organisasi Pelestari Sungai Indonesia (OPSI), elemen masyarakat yang selama ini getol mengawal permasalahan sungai di daerahnya.

 

Perihal keluhan warga Desa Jatijajar ini juga diakui oleh Humas OPSI Kabupaten Semarang, Amin. Menurutnya, OPSI Kabupaten Semarang sudah melakukan monitoring di sungai Jatijajar.

 

Secara fisik dan visual warna air sungai ini telah berubah dan cenderung mengeluarkan bau yang tidak sedap. Termasuk pekatnya kandungan busa. “Kuat dugaan air sungai Jatijajar ini telah tercemar,” tegasnya .

 

Hanya saja, lanjut Amin, sumber pencemaran ini masih harus diteliti lebih jauh. Karena ada sejumlah industri yang berada di kawasan hulu sungai ini. “Perusahaan mana yang memiliki outlet limbah cair langsung ke badan sungai ini perlu diselidiki,” tambahnya.

 

Amin juga menyampaikan, terkait pengaduan akibat menurunnya sungai Jatijajar ini juga telah disampaikan kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Semarang. “Kami berharap persoalan ini disikapi serius oleh BLH,” tambahnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement