REPUBLIKA.CO.ID, JEMBER -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember menyebutkan Kabupaten Jember tidak turun hujan selama dua bulan akibat kemarau panjang berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Karangploso.
"Puncak kemarau di Jember terjadi pada bulan September 2015, sehingga sejumlah daerah mengalami kekeringan, bahkan ada yang mengalami kekeringan kritis," kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Jember Heru Widagdo di Jember, Jumat (26/9).
Berdasarkan data BMKG, lanjut dia, Kabupaten Jember dan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemarau ekstrim, sehingga hampir selama dua bulan berturut-turut sama sekali tidak turun hujan.
"Dalam gambaran BMKG Karangploso disebutkan jika semua wilayah di Jember diberi tanda hitam artinya tanpa hujan selama dua bulan. Prediksi BMKG benar karena sejak pertengahan Juli hingga kini tidak turun hujan di sini," tuturnya.
Keringnya sumber mata air membuat debit air di banyak titik mulai menurun dan warga juga kekurangan air bersih untuk kehidupan sehari-hari, bahkan di sejumlah titik di kawasan perkotaan sulit mendapatkan air.
"Kekeringan itu sendiri ada dua macam yakni kering langka dan kering kritis. Kering langka yakni jika warga kesulitan mendapatkan sumber air dengan jarak kurang dari 2 km, sedangkan lebih dari 2 km maka masuk kategori kering kritis," paparnya.
Ia menjelaskan beberapa kecamatan selama ini menjadi daerah rawan kekeringan dan sulit mendapatkan air bersih antara lain ada di Kecamatan Patrang, Silo, Jelbuk, Arjasa, Bangsalsari, juga Ledokombo.
"Daerah yang mengalami krisis air bersih di Kelurahan Patrang dan Bintoro di Kecamatan Patrang, Desa Pace dan Silo Kecamatan Silo, Desa Panduman Kecamatan Jelbuk, Desa Arjasa Kecamatan Arjasa, Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari.
"Kami terus menginventarisir warga yang mengalami kekurangan air bersih dan mengalami kekeringan sehingga bisa tertangani," katanya.
BPBD Jember juga telah menyiapkan tandon penampungan air yang sewaktu-waktu bisa dipasang di daerah yang yang mengalami bencana kekeringan.