Selasa 25 Aug 2015 02:01 WIB

Harga Bawang Merah Anjlok, Petani Merugi

Rep: Lilis Handayani/ Red: Angga Indrawan
Harga Bawang Merah Naik: Pedagang memilah bawang merah di Pasar Senen, Jakarta, Senin (18/5).
Foto: Republika/ Yasin Habibi
Harga Bawang Merah Naik: Pedagang memilah bawang merah di Pasar Senen, Jakarta, Senin (18/5).

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Memasuki masa panen, harga bawang merah di tingkat petani anjlok. Para petani pun harus menanggung kerugian yang besar.

"Padahal modal yang dikeluarkan sudah besar, tapi saat panen harga bawangnya malah anjlok," keluh seorang petani bawang merah di Desa Mekarsari, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, Durnia, Senin (24/8).

Durnia menjelaskan, modal yang dikeluarkannya itu di antaranya untuk membeli bibit sebanyak satu ton per baru (1 bau = 3/4 hektare). Dengan harga bibit Rp 40 ribu per kg, modal untuk membeli bibit sebanyak Rp 40 juta.

Selain bibit, Durnia pun mengaku telah mengeluarkan biaya untuk sewa tanah, pengolahan tanah, pupuk, dan obat semprot hama sekitar Rp 30 juta. Di musim kemarau seperti ini, dia pun mengeluarkan biaya tambahan untuk pengairan sekitar Rp 3 juta. 

Jika dihitung total, maka modal yang telah dikeluarkannya sekitar Rp 73 juta per bau. Modal itupun tidak termasuk tenaga yang dikeluarkannya karena dirinya mengerjakan sendiri pemeliharaan tanaman hingga panen.

Namun, saat panen, harga bawang merah hanya dihargai Rp 5.000 per kg. Itupun untuk kualitas bawang super. Sedangkan untuk bawang merah dengan kualitas lebih rendah, harganya lebih murah.

"Saya rugi besar," keluh Durnia.

Durnia mengatakan, hasil panen pada musim tanam kali ini sedang meningkat. Pasalnya, saat musim kemarau, tanaman bawang merah bisa tumbuh dengan baik.

Durnia menyebutkan, hasil panennya kali ini mencapai sepuluh ton per bau. Padahal biasanya, hasil panennya hanya berkisar tujuh sampai delapan ton per bau.

"Tapi saat produksinya bagus, harganya malah jatuh," keluh Durnia.

Durnia mengungkapkan, dengan hasil panen bawang merah sepuluh ton per bau dan harga Rp 5.000 per kg, maka uang yang diperolehnya hanya sekitar Rp 50 juta. Dengan total modal yang telah dikeluarkannya sekitar Rp 73 juta, kerugian yang ditanggungnya sebesar Rp 23 juta.

Untuk memperoleh break event point (BEP), terang Durnia, maka harga bawang merah harus mencapai Rp 7.000 per kg. Sedangkan untuk memperoleh keuntungan, maka harga jual bawang merah di tingkat petani harus diatas Rp 7.000 per kg.

Durnia menilai, harga bawang merah jatuh karena melimpahnya pasokan bawang merah dari Brebes, Jateng di pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement