Ahad 09 Aug 2015 21:04 WIB

Buku Sejarah yang Tua yang Terlupa

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Djibril Muhammad
Sejarawan JJ Rizal
Foto: Facebook/JJ Rizal
Sejarawan JJ Rizal

REPUBLIKA.CO.ID, Ruang belajar masih kosong ketika Fatimah (9 tahun), siswi kelas 4 sekolah dasar penghuni sebuah panti asuhan di kawasan Ciumbuleuit Bandung, merajuk meminta dibacakan kisah seorang Insinyur Soekarno.

Kerudung Fatimah sedikit tertiup angin dari pintu yang terbuka saat dia berlari kecil ke arah Kang Andri, seorang mahasiswa yang mengajar di panti setiap Selasa malam. Lampu temaram ruang belajar tak cukup remang untuk menyembunyikan rasa ingin tahu uang terpancar dari wajah gadis kecil itu.

"Katanya Bung Karno juga dari Bandung Kang?" Fatimah meluncurkan pertanyaan pertama pada Kang Andri. Biasanya, berondongan pertanyaan berikutnya segera menyusul keluar dari mulut kecil Fatimah.

Ketertarikan Fatimah akan sosok Soekarno mulai muncul setelah Kang Andri bersama anak-anak penghuni panti lainnya menyanyikan lagu 'Tanah Airku' bersama-sama. Malam itu, pelajaran tambahan membahas tentang pahlawan nasional.

Tidak banyak anak seperti Fatimah yang tertarik dengan sejarah bangsa Indonesia, bahkan dari usia sedini itu. Rizal (9 tahun) misalnya, teman Fatimah yang tergolong cerdas. Dia lebih memilih membahas topik pelajaran ketimbang sejarah.

Sejarah memang topik yang terkesan membosankan. Selama ini, soal-soal ujian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau Sejarah hanya sebatas menanyakan tanggal-tanggal peristiwa penting. Akibatnya, keingintahuan Fatimah akan sosok Soekarno bisa jadi hanya terjawab sebatas tanggal lahir atau tanggal berapa Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Budaya ajar sejarah selama ini yang terkesan tekstual dan minim eksplorasi di lapangan, mau tidak mau berdampak pada minat baca buku-buku sejarah. Murid di sekolah membaca buku sejarah hanya sebatas menghafal sejumlah nama, tempat, dan waktu peristiwa penting. Mengenai makna atau dampak dari peristiwa itu di masa kini, menjadi prioritas kesekian.

Yoga Sukmana, seorang alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta misalnya, mengaku minat baca buku sejarah oleh murid sekolah masih minim. Yoga mengaku, di tempat dia pernah mengajar di sebuah Sekolah Menengah Atas di Jakarta Timur, beberapa siswa pernah dengan terang-terangan mengaku belajar dan membaca buku sejarah tidak terlalu penting.

"Padahal, membaca buku sejarah penting karena bisa ngasih kita perspektif, bukan melulu masa lalu, tapi saat ini, dan masa depan. Masih ada anggapan bahwa belajar sejarah itu enggak penting," ujar Yoga kepada Republika.

Hal senada juga diungkapkan Sejarawan JJ Rizal. Kepada Republika, Rizal mengungkapkan, perhatian masyarakat kepada sejarah bisa dibilang sangat minim. Apalagi dalam kaitannya dengan budaya membaca buku sejarah.

Rizal menilai, masyarakat saat ini lebih terdorong oleh kebutuhan materi. Di saat yang sama, ketika kekayaan fisik semakin dikejar, kebutuhan rohani justru tak dituruti. Kebutuhan rohani ini lah yang menurut Rizal, termasuk juga kebutuhan dalam menggali masa lalu.

"Kita hidup di suatu masyarakat nol buku. Hal ini sebagai akibat pergeseran mahkota hidup yang ukurannya melulu adalah materi atau kekayaan sehingga kebutuhan ruhaniah dalam arti hidup bermartabat dan berkeadaban dikalahkan, malah diabaikan. Salah satu sumber keadaban sebuah bangsa adalah sejarahnya. Sejarah bukan saja gudang pengetahuan tetapi juga nilai," jelas Rizal.

Mengenai lemahnya keterikatan masyarakat Indonesia dengan sejarah bangsanya, Rizal kembali mengulik kejadian yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Ketika itu Presiden Joko Widodo menyebut dalam sebuah pidatonya bahwa Insinyur Soekarno lahir di Blitar, Jawa Timur. Masyarakat disodorkan kenyataan bahwa bahkan di elite pemerintahan sendiri ada mengalami gagap sejarah.

"Celakanya di Indonesia jangankan masyarakat luas, bahkan elitenya yang utama seperti presiden kena penyakit busung lapar sejarah. Kita dikagetkan baru-baru ini dengan presiden yang ngaku pengagum Sukarno dan berasal dari partai yang ngaku pewaris Sukarno, ternyata tidak tahu Sukarno lahir di mana," katanya.

Rizal geram ketika fakta ini belum juga cukup mengetuk wawasan pemerintah untuk membuat kebijakan yang mampu memperbaiki 'khilaf' yang kadung terjadi. Porsi mata pelajaran sejarah justru dikurangi.

Rizal menekankan Indonesia saat ini sedang mengalami krisis nilai. Salah satu obatnya, justru dengan mengenal kembali sejarah bangsa, termasuk semangat yang diusung oleh pejuang-pejuang terdahulu.

"Mungkin acara televisi mulai banyak yang mengangkat topik sejarah, tetapi kurang didukung budaya membaca sehingga yang terjadi berbaurlah kaburlah story dengan history, fiksi bahkan klenik pun dianggap sejarah," ujar Rizal.

Mau tidak mau, lanjut Rizal, pemerintah harus menggenjot budaya membaca kembali buku-buku sejarah. Dia juga menilai bahwa meningkatnya minat akan sejarah tidak akan berarti apapun apabila tidak dibarengi dengan peningkatan minat baca. Semakin lengkap, minat baca yang belum tinggi ini juga dibarengi dengan dukungan pemerintah yang minim untuk menyediakan ketersediaan buku sejarah, khususnya untuk siswa sekolah.

Kepala Perpustakaan Nasional Indonesia Sri Sularsih mengaku, masih banyak laporan di lapangan yang mengeluhkan kurangnya pasokan buku teks sejarah di daerah.

Sri menyebutkan, pemerintah selama ini lebih banyak menyediakan buku-buku sastra untuk dipasok ke daerah-daerah. Sedangkan buku sejarah, luput dari perhatian.

"Petugas perpustakaan sekolah di beberapa daerah di Indonesia mengeluhkan bahwa buku sejarah itu sedikit. Kami sebelumnya ada program berikan buku sastra. Ternyata malah yang diperlukan adalah buku sejarah," ujarnya.

Berangkat dari kondisi ini, Sri menegaskan, akan menggunakan anggaran yang ada selanjutnya untuk menambah pasokan buku sejarah. Sri juga menyebutkan, buku sejarah dan tambahan buku-buku sastra dan topik lainnya akan lebih banyak dipasok di kawasan Indonesia bagian timur yang memang masih minim terdapat perpustakaan maupun taman bacaan.

Mengenai minat baca, Sri menjelaskan minat baca siswa Indonesia masih rendah. Berdasarkan data dari Badan Pendidikan dan Kebudayaan Dunia (UNESCO) dari 1.000 penduduk Indonesia, hanya 1 orang yang membaca buku. Menyusul munculnya angka ini, lanjut Sri, Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas) sedang menggalakkan kampanye masyarakat gemar membaca. Sri menyebutkan pihaknya akan melakukan survei independen untuk mengukur angka minat baca yang sebetulnya, bahkan sampai ke pelosok.

Sri menambahkan, salah satu sebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia adalah pembiasaan membaca yang sangat rendah sejak kecil. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, lanjutnya, tidak ada kewajiban untuk membaca sejumlah buku tertentu.

"Di indonesia kan belum ada wajib baca. Kecuali sekolah swasta. Itu yang selalu dikeluhkan. Termasuk Pak Taufik Ismail mengeluhkan bahwa negara maju sejak dulu ada wajib baca, kita tidak ada," ujarnya.

Sehingga, Sri menilai, sebelum menumbuhkan minat membaca buku sejarah, yang terpenting adalah meningkatkan minat masyarakat Indonesia untuk membaca buku, tak hanya buku sejarah. Sri mendesak pemerintah untuk lebih banyak turun tangan di lapangan dalam menggalakkan minat baca. Selama ini, menurutnya, urusan minat baca seolah diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing sekolah. Padahal pemerintah bisa ambil bagian dengan regulasi, seperti menjalankan gerakan wajib baca.

Sri mengaku, minat baca buku sejarah sama pentingnya dengan buku-buku lainnya. Akses terhadap buku, menurutnya, harus dibuka selebar-lebarnya. Sehingga gadis kecil seperti Fatimah pun bisa mencari jawaban secara mandiri. Dengan demikian sejarah bisa menjadi modal bangsa. Akhirnya, yang tua pun tak lantas terlupa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement