Selasa 23 Jun 2015 14:30 WIB

Bayi Kembar Lima Surabaya Berpotensi Cetak Sejarah

Rep: Andi Nurroni/ Red: Esthi Maharani
Bayi kembar (ilustrasi)
Foto: www.infopalestina.com
Bayi kembar (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Bayi kembar lima hasil inseminasi yang lahir di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Jumat (19/6) berpotensi menjadi pencapaian termaju dalam sejarah medis di Indonesia. Bayi-bayi pasangan Hari Saputra (32) dan Nia Rachmawati (31) yang lahir prematur itu bisa melewati fase kritis dan bisa bertahan hidup.

Konsultan Divisi Neonatalogi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unair RSUD dr Soetomo dr Agus Harianto SpA(K) melaporkan, hingga saat ini, kondisi kelima bayi menunjukan perkembangan positif. Meski begitu, menurut  Agus, kelima bayi yang lahir dengan berat badan 1.100 hingga 1.350 gram itu masih berjuang melewati fase kritis.

Fase kritis, menurut Agus, berlangsung selama tujuh hari pertama, dan 28 hari setelahnya.

“Mereka imunitasnya masih lemah, sehinga rawan infeksi, gangguan metabolisme, gagal nafas dan gagal fungsi organ. Kami memberikan obat-obatan untuk mencegah itu. Kami siaga 24 jam,” ujar Agus dalam jumpa pers di RSUD dr Soetomo Surabaya, Selasa (23/6).

Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan klarifikasi atas pemberitaan keliru yang menyebutkan kondisi jantung bayi-bayi tersebut bocor. Menurut Agus, semua bayi yang lahir prematur jantungnya belum menutup sempurna. Dengan bantuan pengobatan, menurut Agus, jantung bayi-bayi tersebut bisa menutup.

Kepala Divisi Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri-Ginekologi RSUD dr Soetomo dr Relly Y Primariawan SpOG (KFER) menjelaskan, bayi kembar lima yang tengah ditangani bukan kembar identik, melainkan kembar dizigotik. Itu artinya, menurut Relly, bayi-bayi tersebut lahir dari sel-sel telur sendiri.

“Jadi, itulah kenapa golongan darah mereka berbeda, dan kemungkinan ke depan rupa mereka juga berbeda,” ujar Relly.  

Di Indonesia, menurut Relly, bayi kembar lebih dari dua hasil inseminasi pernah terjadi beberapa kali. Bahakan, menurut dia, pernah terjadi hingga kembar tujuh di Jakarta. Namun, menurut dia, dalam kasus-kasus sebelumnya,  bayi-bayi tersebut gagal diselamatkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement