Senin 15 Jun 2015 05:52 WIB

Hendropriyono Perjuangkan Dokter Terawan Raih Nobel

Kepala RSPAD Brigjen dr Terawan Agus Putranto.
Foto: Republika/Erik PP
Kepala RSPAD Brigjen dr Terawan Agus Putranto.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kiprah dan kontribusi Brigjen dr Terawan Agus Putranto di dunia medis Tanah Air tidak bisa dipandang remeh. Dia sudah berhasil menyembuhkan puluhan ribu pasien penyakit stroke.

Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) tersebut dikenal berhasil mengembangkan teknologi pengobatan digital substraction angiogram (DSA) yang melancarkan pembuluh darah otak. Dokter ahli syaraf tersebut diklaim sebagai penemu modifikasi metode cuci otak (brain washing), yang sanggup mengurangi risiko paparan radiasi dalam otak pasien 10 kali lebih kecil.

Karena pencapaiannya begitu fenomenal, dr Terawan AP mendapat anugerah khusus dari Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) di Jakarta, Ahad (14/6) malam WIB. Plakat penghargaan diserahkan CEO HSC yang juga mantan kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (Purn) Gories Mere.

Hadir dalam acara itu, Ketua MPR Zulkifli Hasan, mantan wakil presiden Try Sutrisno, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Danjen Kopassus Mayjen Doni Monardi, dan beberapa pejabat serta pengusaha nasional.

AM Hendropriyono yang menggelar acara tersebut memuji pencapaian dr Terawan. Menurut dia, penemuan teori cuci otak yang diakui salah satu rumah sakit di Jerman tersebut, sangat luar biasa. Hendropriyono menyatakan, pengobatan DSA yang dimodifikasi dr Terawan merupakan sebuah terobosan baru di dunia medis.

"Harus ada satu penemuan untuk mensyukuri dan mengangkat Pak Terawan, agar banyak generasi penerus, seperti dia. Ada Einstein, Thomas Alva Edison, saya pasang Terawan. Ini mudah-mudahan menjadi stimulan untuk semua pihak," kata mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) tersebut.

Hendropriyono menyatakan, segala pencapaian dr Terawan tidak boleh dipandang remeh. Dia mengaku sudah merasakan betul manfaat dari terapi brain washing tersebut. Karena itu, kalau memang dirasa perlu, ia berupaya memperjuangkan dr Terawan untuk meraih Nobel Kesehatan atas temuannya yang revolusioner itu.

"Apa pun semua penemuan baru, diterima. Kita ajukan ke sana, meraih nobel. Jalan ke sana memang berliku, jalannya sengaja diberliku-likukan," katanya.

Hendropriyono juga mendoakan agar karier alumnus Fakultas Kedokteran UGM tersebut bisa semakin bersinar. "Kita doakan sebentar lagi memanggul pangkat mayjen. Ini untuk merintis, membawa juga lokomotif, membawa gerbong yang ditarik dokter Terawan. Kita ingin mensyukuri apa yang dipercayakan oleh tentara. Ini supaya masyarakat Indonesia menghargai sama-sama menjadi satu negara maju."

Sementara itu, Kepala RSPAD dr Terawan AP mengaku masih terus melakukan latihan teori modifikasi yang dikembangkannya dapat memberikan jaminan keamanan bagi pasien. Tidak hanya itu, pihaknya juga melatih banyak dokter sejak 10 tahun terakhir, yang tersebar di berbagai daerah. Dokter yang sudah lulus pelatihan yang diadakannya diberi sertifikat.

"Modifikasi DSA, iya pertama kali, kita buat metode. Tiap tahun kita operasi 3 ribu pasien. Rata-rata operasi 25 menit dengan biaya Rp 30-40-an juta, tergantung peralatan yang dipakai," ujar dr Terawan.

Dia melanjutkan, setiap tindakan operasi, tim dokter tidak hanya memikirkan efek samping, melainkan juga efek ke depan. Karena itu, ia optimistis metode yang dikembangkannya bisa semakin baik. "Kesembuhan itu dari Tuhan, dokter menggacu diagnostik yang tepat. Nama brain washing itu memang tak dikenal di dunia medis. DSA yang kami modifikasi dengan tujuan meningkatkan keamanan pasien dari radiasi."

Disinggung tentang temuannya itu, ia merasa enggan untuk mematennya. Pasalnya, ia hanya memiliki tujuan untuk menyembuhkan pasien. "Saya mearasa tak layak mematenkan yang sifatnya menolong pasien. Kami takut jemawa. Apa yang bisa kami berikan untuk bangsa ini akan kami berikan," ujar dr Terawan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement