Selasa 12 May 2015 17:25 WIB

‘Daripada Impor Beras, Lebih Baik Naikkan HPP’

Rep: Lilis Handayani/ Red: Yudha Manggala P Putra
Impor beras (ilustrasi)
Impor beras (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Para petani di lumbung padi nasional di Kabupaten Indramayu dan Cirebon, berharap agar pemerintah kembali menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP). Langkah itu dinilai lebih baik dibandingkan harus impor beras dari luar negeri.

 

"HPP GKP 2015 terlalu rendah,’’ kata Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, Selasa (12/5).

 

Sutatang menilai, idealnya HPP GKP minimal Rp 4.000 per kg. Dengan harga itu, maka bisa mengimbangi tingginya modal biaya tanam yang harus dikeluarkan petani.

 

Akibat HPP yang terlalu rendah, petani pun lebih memilih menjual gabahnya ke pasaran dibandingkan ke Bulog. Saat ini, harga GKP di tingkat petani mencapai sekitar Rp 4.000 per kg. Sedangkan HPP GKP 2015, hanya sebesar Rp 3.700 per kg. Kondisi itulah yang akhirnya bisa mempengaruhi serapan Bulog.

 

"Tinggal naikkan saja HPP-nya (supaya petani mau menjual gabahnya ke Bulog), jangan impor beras. Itu solusi terbaik,’’ tegas Sutatang.

 

Sutatang menambahkan, impor beras pun sebenarnya tak diperlukan. Pasalnya, produksi gabah petani saat ini cukup tinggi, yakni sekitar delapan ton per hektare. Itu berarti, stok gabah di tingkat petani sebenarnya berlimpah.

 

Hal senada diungkapkan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar. Dia menyatakan, untuk memenuhi stok pangan, pemerintah sebaiknya lebih memilih menempuh kebijakan menaikkan kembali HPP GKP. Idealnya, HPP GKP mencapai Rp 5.000 per kg.

"Daripada impor beras, lebih baik naikkan HPP,’’ ujar Tasrip.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement