REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--- Warga Jawa Barat saat ini mempunyai minat yang luar biasa dalam menanam kopi. Karena, harga kopi khas Jabar yakni Java Preanger Coffee sedang naik daun setelah mendapat tempat dihati para penikmat kopi di dunia.
Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jabar, Arief Santosa, minat para petani menanam kopi saat ini sangat tinggi. Karena, harga kopi Jawa Barat naik puluhan kali lipat. Bahkan, kopi Jabar sudah di ekspor ke beberapa negara baik Asia maupun Eropa.
Saat ini, kata dia, Cherry atau biji kopi yang belum diolah itu awal harganya Rp 2.500 per kilogram. Sekarang naik menjadi Rp 7.500-12.000 per kilogram. "Sehingga para petani tertarik menanam kopi," ujar Arief kepada wartawan, Jumat (24/4).
Arief mengatakan, keberadaan kopi saat ini sudah menjadi gaya hidup. Hal itu terbukti dengan banyaknya kafe yang khusus menyediakan kopi. Di Kota Bandung saja, kafe yang menyediakan kopi sudah bermunculan. Kopi, saat ini sudah menjadi lifestyle.
"Makanya Pak gubernur menginisiasi diperbanyak warkop (warung kopi) saja. Itu khusus kopi tradisional," katanya.
Sebetulnya, kata Arief, perkopian di Jabar sudah menggeliat sejak tahun 2008-2009 lalu. Namun, setelah Jabar mengekspor kopi ke Maroko akhir 2013 lalu, nama kopi Jabar tiba-tiba saja terkenal hingga tingkat dunia.
"Kopi jabar ini mendapatkan tempat dihati para penikmat kopi dunia," katanya.
Tak hanya di Maroko, menurut Arief, kopi Jabar juga diminati oleh Korea, Jepang dan diekspor ke negara Eropa. Luas tanaman kopi di Jabar sendiri, mencapai 23 ribu hektare. Sekitar 58 persennya merupakan kopi arabika.