Rabu 11 Feb 2015 01:30 WIB

Ini Alasan Banyuwangi tak Berlakukan Perda Antimaksiat

Setop Maksiat
Foto: IlS
Setop Maksiat

REPUBLIKA.CO.ID, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengemukakan bahwa penyelesaian masalah umat tidak cukup hanya dengan pendekatan moral, melainkan juga dengan kesejahteraan. "Contohnya penutupan lokalisasi. Tidak bisa, misalnya, hanya dengan menganggap lokalisasi melanggar moral, maka tempat itu ditutup," katanya di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa Malam.

Dia mengatakan, pokok pikiran itu pula yang antara lain disampaikan saat dirinya menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Yogyakarta, Selasa (10/2).  Anas menceritakan, Perda Antimaksiat tidak pernah ada di Banyuwangi karena selalu memancing pro dan kontra terkait perdebatan moral. Misalnya soal penegakan aturan pelarangan karaoke baru yang tidak berkonsep karaoke keluarga.

"Pendekatannya bukan moral atau maksiat, tapi kami paparkan data intelijen bahwa selama ini peredaran narkoba dan perdagangan manusia banyak dilakukan di karaoke kawasan pesisir, seperti Banyuwangi," ujarnya.

Selain itu, kata dia, pihaknya meyakinkan bahwa pengembangan Banyuwangi ke depan adalah ekowisata berbasis alam dan budaya, sehingga tidak perlu banyak karaoke. "Harus beda dengan kota lain. Sering saya katakan, kalau orang cari karaoke cukup di kota lain. Di Banyuwangi orang cari suasana alam dan wisata budaya. Ini pendekatan kesejahteraannya, terbukti pariwisata kami terus berkembang dan bisa berkontribusi ke ekonomi warga," tutur Anas.

Anas menambahkan, kebijakan daerah harus tidak bias moral. Misalnya, tidak bisa daerah meminggirkan kesenian atau tradisi lokal karena dinilai secara subyektif oleh pemimpinnya sebagai kesenian atau tradisi yang bertentangan dengan nilai agama yang diyakini kepala daerah.

Apalagi, kata dia, Islam di Indonesia adalah Islam yang mempunyai ciri tersendiri karena berdampingan secara harmonis dengan kebudayaan dan kearifan lokal. "Ini yang harus kita jaga dalam kerangka kebhinnekaan," tuturnya.

Di era kekinian, umat Islam perlu hidup selaras dengan teknologi dan sains. Teknologi informasi merupakan keniscayaan dan tak bisa ditolak.

"Jangan takut pada internet dan sains. Justru dengan internet dan sains, umat Islam bisa berkembang maju serta bermanfaat bagi seluruh alam," kata Anas.

sumber : Antara
Berita Terkait
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi