Sabtu 15 Nov 2014 13:18 WIB

BBM Memang Harus Naik!

Rep: C62/ Red: Winda Destiana Putri
Petugas mengisi BBM di salah satu SPBU di Jakarta,
Foto: Republika/ Yasin Habibi
Petugas mengisi BBM di salah satu SPBU di Jakarta,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rencana pemerintah mengalihkan subsidi dengan cara menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kepastiannya belum final. Pasalnya masih banyak pihak yang menolak kenaikan BBM tersebut.

Penolakan semakin kuat ketika harga minyak dunia sedang turun pada kisaran 80 dollar per barel. Mantan Komisaris Pertamina Roes Aryawijaya memiliki pendapat lain dari pihak yang tidak setuju dengan Kenaikan harga BBM.

Menurutnya harga BBM harus tetap dinaikan agar sumsidi BBM sampai kepada rakyat kecil bukan pada pelaku bisnis dan industri. "Tapi sistemnya dibuat jangan menggunakan subsidi harga" kata Roes saat menyampaikan pendapatnya dalam diskusi di polemik dengan tema Bola Panas BBM di Warung Daun Cikini, Sabtu (15/11).

Menurut data yang dimiliki Roes, selama 10 tahun terakhir mulai dari tahun 2004 sampai 2013, selama subsidi itu memakain sistem sumsisidi harga, maka uang yang dibiyayakan dari APBN itu langsung ke perusahaan PT Pertamina dan PT PLN Persero.

Selama sepuluh tahun itu kata dia, hanya pelaku bisnis dan perusahaan industri yang banyak menerima manfaatnya. Jika dirupiahkan maka manfaat atau keuntungan yang diterima pelaku usaha itu rata-rata 150 triliun sementara untuk rakyat kecil dan miskin hanya menerima 30 triliun.

"Apakah ini akan nita biarkan kondisi seperti ini saya ingin menyatakan BBM harus dinaikan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement