REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Siak, Riau, menganulir keputusan Kepala Sekolah SMAN 1 Bungaraya yang mengeluarkan tiga siswa akibat mengkritik guru mereka melalui media sosial "Facebook".
"Selaku kepala dinas, saya sudah putuskan bahwa tiga siswa tadi untuk dikembalikan ke SMA Negeri I Bungaraya," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Siak, Kandri Yafiz, ketika dihubungi wartawan dari Pekanbaru, Kamis (6/11).
Sebelumnya, ketiga siswa kelas dua SMA itu antara lain Reksa Dirgantara Putra, Wiwit Dwi Santoro dan Towil Maamun "dipecat" oleh pihak sekolah karena membuat status yang dinilai menyindir guru sekolah tersebut.
Menurut Kandri Yafiz, pihaknya telah memfasilitasi pihak sekolah dan orang tua siswa untuk mencari solusi masalah tersebut.
Pertemuan ketiga pihak itu digelar di kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Bungaraya, yang turut dihadiri oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPID), Polsek Bungaraya, sekaligus tiga siswa tersebut.
"Kita sudah putuskan, bahwa ketiganya untuk dikembalikan ke sekolahnya lagi," katanya.
Meski begitu, orang tua murid tersebut masih belum memutuskan apakah akan menerima keputusan tersebut dan memperbolehkan anak mereka bersekolah di SMAN 1 Bungaraya. Sriono, orang tua dari Wiwit Dwi Santoro mengatakan masih akan mempertimbangkan dampak psikologis anak dan efek negatif yang bisa timbul apabila anaknya kembali ke sekolah itu.
Sebabnya, ia khawatir masih ada dendam antara anak mereka dan para guru.
"Inilah bentuk kekhawatiran kami. Takut jika nantinya kembali ke sekolah ada penilaian yang tidak adil untuk menjatuhkan nilai anak kami," kata Sriono.
Kasus kebijakan Kepala Sekolah Bungaraya yang mengeluarkan tiga siswa mereka karena status di "Facebook" menjadi sorotan publik beberapa waktu belakangan ini. Hal ini bermula saat Wiwit Dwi Santoro menuliskan "Murid terlambat dihukum, guru terlambat tidak dihukum" dalam status di akun laman sosial miliknya yang lantas dikomentari oleh kedua siswa lainnya.
Status tersebut ternyata berbuntut panjang karena Kepala Sekolah SMAN 1 Bungaraya, M Nasir, menjadikannya alasan untuk mengeluarkan ketiga siswa itu. Namun, M. Nasir beralasan status bernada sindiran di media sosial itu merupakan puncak dari akumulasi masalah yang dibuat oleh ketiga siswa itu.
Kepala sekolah menyatakan bahwa ketiga siswa itu selama ini sulit untuk dibina dan sering bolos, kabur dari jam sekolah dan merokok.