Ahad 20 Jul 2014 19:00 WIB

Jalinsum Minim Rambu Lalu Lintas

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Maman Sudiaman
Jalan Lintas Sumatera/Jalinsum (ilustrasi).
Foto: Republika/Maspril Aries
Jalan Lintas Sumatera/Jalinsum (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Para pemudik yang melintasi jalan lintas Sumatera (jalinsum) wilayah Provinsi Lampung, harap berhati-hati, terutama mudik pada malam hari. Pasalnya, hampir sepanjang jalinsum mulai dari Pelabuhan Bakauheni hingga perbatasan Lampung-Sumatera Selatan (Sumsel), sangat minim rambu-rambu lalu lintas.

Setelah keluar dari Pelabuhan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, pemudik dapat memilih satu dari dua jalan lintas yang ada bila ingin menuju kota-kota di Sumatera. Pemudik bisa menggunakan jalinsum atau jalan lintas timur (jalintim).

Bila ingin menggunakan jalinsum dapat melewati ibukota Provinsi Lampung, yakni Bandar Lampung. Sedangkan memilih jalintim tanpa melewati kota Bandar Lampung, langsung menuju Kabupaten Tulangbawang dan Mesuji hingga perbatasan Lampung-Sumsel. Sedangkan yang ingin melewati lintas barat (jalinbar) menuju Bengkulu harus melintas lebih dulu jalinsum.

Kondisi jalinsum dan jalintim di wilayah Lampung, dari pantauan Republika sampai Ahad (20/7) ini dalam kondisi baik. Lubang-lubang jalan yang selama ini menganga di badan jalan sudah ditambal sementara, sehingga arus lalu lintas dapat lancar pada arus mudik ini.

Sedangkan di jalinbar masih terdapat beberapa titik kerusakan jalan ketika memasuki kawasan Wonosobo menuju Krui, Kabupaten Lampung Barat. Jembatan Terbanggi Besar di Kabupaten Lampung Tengah, yang sempat ambles dan tidak dapat dilalui, saat ini sudah bisa dilewati kendaraan pribadi dan umum.

Kekurangan saat melintas di tiga jalan lintas di Lampung yakni minimnya rambu-rambu lalu lintas. Sehingga, menyulitkan pada pemudik yang menggunakan kendaraan untuk mudik ke kampung halamannya. Rambu-rambu lalu lintas yang kurang, diantaranya tidak adanya lampu penerangan jalan, rambu penunjuk arah kota/tujuan, rambu masjid/tempat makan/SPBU, dan rambu-rambu peringatan tempat/jalan berbahaya/rawan.

Menurut Indra Mustika, warga Cibubur, yang ingin berlebaran di Palembang, rambu-rambu lalu lintas di sepanjang jalan sangat sulit ditemukan. Padahal, kata dia, rambu-rambu lalu lintas menjadi pegangan supir ketika membawa kendaraan ke luar kota. "Berbeda dengan di Jawa, rambu lalu lintas jalan banyak. Tapi, di Sumatera sulit dilihat," tutur bapak dua anak ini.

Saat melintas di Jalintim mulai dari Bakauheni tujuan Kayuagung (Ogan Komering Ilir), ia mengakui terpaksa melanjutkan perjalanan, karena sangat sulit sekali mendapatkan tempat peristirahatan dan SPBU. "Kalau ada rambu-rambu lalu lintas bisa tahu di mana ada SPBU,masjid, atau tempat makan," kata pegawai negeri ini.

Sedangkan pada malam hari, sepanjang jalan sangat minim lampu penerangan jalan, akibatnya para supir sulit mengenal daerah yang telah dilintasi. Termasuk juga, marka jalan tidak ada, membuat pengendara sangat berhati-hati saat berlintasan dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Memasuki H-8 ini, pos pengamanan dan kesehatan belum terlihat di jalintim dan jalinsum. Pos pengamanan operasi ketupat polisi baru terlihat di setiap pertigan jalan baik di Bakauheni, seperti yang pernah teredia sebelumnya. Sedangkan pos pengamanan dan kesehatan untuk arus mudik lebaran belum tersedia

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement