REPUBLIKA.CO.ID, SENTANI -- Peneliti dari Balai Arkeologi Jayapura Erlin Novita Idje Djami mengatakan pihaknya mendapat informasi jika sejumlah arca megalitikum di Kabupaten Jayapura diisukan telah dijual oleh masyarakat setempat kepada para kolektor barang prasejarah.
"Kami mendengar informasi berupa isu bahwa arca megalitikum di Depapre dan Genyem dijual oleh masyarakat setempat pemilik benda prasejarah tersebut," kata Erlin saat ditemui Antara di sela-sela pagelaran Festival Danau Sentani di bibir pantai Khalkote, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (21/6).
Hanya saja, kata perempuan manis asal NTT itu yang ditemui bersama ketiga rekannya yakni Amurwani Putri, Otlan Siagian dan Hari Suruto, informasi atau isu tersebut masih harus dilakukan pengecekan mengingat benda-benda prasejarah tersebut merupakan bukti sejarah adanya kehidupan di masa lalu.
Arca-arca megalitikum yang diisukan di jual yakni Arca Klaisu di Genyem dan Arca Yokari di Depapre, Kabupaten Jayapura. "Rencananya Balai Arkeologi Jayapura akan melakukan pendataan ulang tahun ini," katanya.
Selain itu, Erlin juga mengemukakan bahwa Situs Yemokho di pesisir Danau Sentani mulai terusik dengan aktivitas masyarakat karena kurangnya pemahaman masyarakat setempat akan benda-benda prasejarah. "Yang kami dengar didekat Situs Yemokho telah ditanami singkong oleh warga masyarakat," katanya.
Untuk itu Balai Arkeologi Jayapura, kata Erlin, turut serta dalam pagelaran FDS 2014 dengan harapan warga masyarakat yang berkunjung di bibir pantai Khalkote bisa mendapatkan informasi tentang benda-benda prasejarah yang ada di Papua. "Ini salah satu cara dari Balai Arkeologi Jayapura untuk mensosialisasikan benda-benda arkeologi yang selama ini ditemukan," katanya.
Erlin juga menyampaikan dalam stan yang menjadi tempat pameran milik instansinya, Balai Arkeologi Jayapura memamerkan sejumlah hasil temuan artefak diawal tahun ini di Bukit Srobu, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Diantaranya satu tengkorak manusia, sampah kerang, alat kerang, alat serpih, kapak lonjong, perhiasan kerang, gandik/ulekan dan pipisan.
"Ada juga fragmen gerabah hias, dan brusor-brosur tentang penemuan lainnya. Dan untuk tengkorak manusia yang ditemukan di Bukit Srobu, Balai Arkeologi Jayapura belum bisa memastikan penanggalannya," katanya.