Jumat 02 May 2014 14:59 WIB

Pascaletusan 2010, Perilaku Gunung Merapi Berbeda

 Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara difoto dari jarak 40 Km di Bantul, Yogyakarta, Jumat (25/4).
Foto: Antara/Teresia May
Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara difoto dari jarak 40 Km di Bantul, Yogyakarta, Jumat (25/4).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kepala Badan Geologi Surono menyatakan perilaku Merapi berbeda pascaletusan 2010 karena sejak letusan yang bersifat eksplosif tersebut, gunung api aktif itu tidak lagi memiliki kubah lava.

"Sejak letusan 2010, Merapi tidak lagi punya 'topi'. Sistemnya sudah sangat terbuka. Oleh karena itu, sering terjadi letusan dan terdengar dentuman akhir-akhir ini," kata Surono usai dialog "Apa Kabar Merapi" di Yogyakarta, Jumat.

Menurut Surono, magma di dalam gunung diperkirakan sudah nyaris habis setelah dikeluarkan saat letusan 2010 dan kini Merapi sedang mengisi kembali dapur magma yang nyaris kosong tersebut.

Proses pengisian magma tersebut, lanjut Surono, terkadang mengeluarkan gas karena ada proses pendinginan saat magma naik. Selain itu, sifat magma gunung api di Pulau Jawa kaya akan kandungan gas.

"Oleh karena itu, sering terdengar dentuman yang berasal dari pelepasan gas. Asap solfatara juga terlihat karena tidak lagi ada sumbatan di kawah Merapi. Gas yang terbentuk terlepas sedikit demi sedikit tanpa ada akumulasi dalam jumlah yang besar," katanya.

Ia berharap, proses yang kini terjadi di Merapi adalah murni pelepasan gas dalam sistem yang terbuka. "Merapi pasti akan kembali ke tipe letusan yang seharusnya, yaitu tipe Merapi dengan pembentukan kubah lava, muncul api diam dan awan panas. Sekarang, kita ikuti saja prosesnya," katanya.

Surono menambahkan, peningkatan status dari normal ke waspada tersebut dilakukan untuk memberikan hak kepada gunung dan juga memenuhi hak kepada masyarakat sebagai bentuk peringatan dini.

"Perubahan status tersebut diikuti dengan peningkatan kesiap-siagaan. Masyarakat tahu harus berbuat apa saat ada perubahan status Merapi. Lebih baik melakukan persiapan dari pada tidak sama sekali tetapi kemudian terjadi hal yang tidak diinginkan," katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Subandriyo mengatakan, Merapi pernah mengalami perubahan perilaku seperti saat ini, yaitu pascaletusan 1872.

"Merapi kembali ke tipe letusannya pada 1883," katanya.

Ia mengatakan, masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa meskipun status Merapi dinaikkan menjadi waspada namun dengan tetap meningkatkan kesiap-siagaan.

Berdasarkan data kegempaan, dalam tiga hari terakhir, aktivitas fluida yang ditandai dengan gampa frekuensi rendah terus berkurang namun asap solfatara masih terus keluar dari Merapi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement