Rabu 16 Apr 2014 07:20 WIB

Guru-Buruh Bangunan Lampung Jadi Relawan

Keluarga berencana/ilustrasi
Foto: starafrica.com
Keluarga berencana/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG -- Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Lampung mengapresiasi positif sejumlah guru dan buruh bangunan yang bersedia menjadi relawan program kerja sama dengan Rutgers WPF MenCare untuk menumbuhkan kepedulian kaum lelaki atas kaum perempuan.

Koordinator Distrik Program MenCare PKBI Lampung Anggalana, di Bandarlampung, Rabu, menjelaskan pihaknya telah menggelar Pelatihan Fasilitator Kelompok Remaja di aula lembaga itu, dengan peserta berasal dari Kelurahan Sumberrejo dan Kelurahan Sumberagung Kecamatan Kemiling Kota Bandarlampung.

"Pelatihan Fasilitator Kelompok Remaja ini dikuti 24 orang remaja. Dilihat dari segi latar belakang sosio-budaya, remaja peserta pelatihan merupakan kelompok yang cukup heterogen," kata Angga lagi.

Secara umum, remaja berlatar belakang pendidikan SMA, baik yang masih aktif sebagai pelajar SMA maupun yang telah lulus SMA. Sebagian peserta kegiatan itu, kata Angga menambahkan, juga ada yang telah bekerja seperti guru maupun buruh bangunan.

Modul yang disampaikan dalam pelatihan ini meliputi pengantar program MenCare+, gambaran permasalahan dan kondisi kesehatan seksualitas dan reproduksi di Indonesia dan Lampung, dan konsep kesehatan reproduksi dan seksual serta pendekatan hak.

"Lalu aspek psikososial dan tumbuh kembang remaja, narkoba, infeksi menular seksual atau IMS dan HIV AIDS. Kemudian dasar-dasar gender, konsep remaja tentang maskulinitas, dan konsep dasar remaja sebagai calon ayah," ujar Anggalana pula.

Modul lainnya, kata Angga menambahkan, adalah tentang menjadi ayah karena pilihan atau karena kebetulan role play dan diskusi gambaran ayah 'ideal', pengasuhan anak, gender dan mainan, komunikasi persuasif, kekerasan dalam pacaran atau KDP dan pacaran sehat, pembagian pekerjaan, kehamilan dan kelahiran -cerita 'menjadi orang tua', motivasi hidup sehat dan perencanaan sehat, rencana tindak lanjut, penutupan -jaring 'laba-laba ayah'.

"Metode yang digunakan dalam pelatihan ini, meliputi ceramah, diskusi kelompok, role play, simulasi, dan penayangan video, self testimony and self reflection," katanya.

Proses pelatihan berlangsung selama tiga hari (11--13 April 2014) di aula PKBI Lampung. "Secara umum pelatihan berjalan dengan baik, sebagian besar peserta mengikuti setiap sesi dengan antusias," kata Anggalana pula.Para peserta, menurut dia, mulai menyadari pentingnya kesehatan reproduksi terutama ketika dijelaskan berbagai persoalan kesehatan reproduksi remaja beserta konsekuensi-konsekuensi perilaku seks tidak aman, seperti penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV-AIDS.

"Para peserta kebanyakan menyatakan bahwa pengetahuan yang disampaikan dalam pelatihan merupakan pengetahuan baru yang selama ini belum pernah diperoleh, seperti bahaya rokok dan seks bebas," katanya lagi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement