Ahad 16 Mar 2014 22:24 WIB

Ilmispi: Waspadai Gerakan Aksi Kekerasan Mengatasnamakan Agama

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) . (ilustrasi)
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) . (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MAMUJU -- Ketua Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik (Ilmispi) Wilayah IV Provinsi Sulbar, Andi ilham Bambang Parenrengi, menyampaikan, selayaknya mewaspadai gerakan aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.

"Generasi muda Islam khususnya di Sulbar mawas diri terhadap gerakan kekerasan atas nama agama," kata Andi Ilham Bambang di Mamuju, Minggu.

Menurutnya, tantangan generasi muda Islam ke depan tidak ringan sebagai pemilik dan penanggungjawab kemajuan bangsa dan negara.

"Generasi muda mempunyai peran penting dan strategis dalam menerima tongkat estafet kepemimpinan dan pembangunan bangsa ini. Selain itu generasi muda islam mempunyai peran dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Negara Indonesia (NKRI) dari pihak-pihak yang mencoba memprovokasi dengan tujuan terjadi kerusuhan diberbagai daerah," katanya.

Ia mengatakan, ada kelompok tertentu yang berupaya mengganti Pancasila sebagai ideologi NKRI, serta menganjurkan untuk melakukan tindakan aksi kekerasan mengatasnamakan agama.

Oleh karena itu ia mengatakan, generasi muda Islam di Sulbar harus mewaspadai gejolak itu dan mewaspadai munculnya gerakan kekerasan mengatasnamakan agama itu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Andi mengatakan, pasca runtuhnya kekuasaan orde baru dan masuknya era reformasi semakin terbuka ruang bagi kelompok-kelompok islam beraliran keras yang cenderung menggunakan cara-cara radikal guna mencapai tujuannya.

"Kelompok tersebut menghendaki adanya perubahan, pergantian terhadap sistem di masyarakat sampai akarnya, bila perlu menggunakan cara cara kekerasan yang tidak sejalan dengan ajaran Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam,"katanya.

Ia mengatakan, bentuk radikalisme tersebut salah satunya adalah membuat teror atau suatu kondisi yang membuat takut yang nyata, perasaan luar biasa akan bahaya yang mungkin terjadi seperti melakukan teror bom.

"Seperti yang terjadi pada saat teror yang terjadi di Indonesia antara lain, peristiwa bom Bali I tanggal 12 Oktober 2002 yang mencengangkan dunia karena menelan korban 202 orang dan mencederai 209 orang lainnya serta bom bali II pada 1 Oktober 2005 di Kuta dan Jimbaran," katanya.

Ia mengatakan, Ilmipsi sendiri direncanakan akan menggelar kegiatan seminar untuk mendorong generasi muda Islam mewaspadai gerakan radikalisme itu di Kabupaten Polman 26 Maret 2014 dengan tema "Peran generasi muda Islam dalam mencegah aksi kekerasan atas nama agama".

Acara itu akan diikuti lembaga kepemudaan, mahasiswa, LSM dan pondok pesantren.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement