Rabu 12 Mar 2014 19:58 WIB

PDIP Jamin Jokowi tak Terlibat Bus Rusak

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Karta Raharja Ucu
Jokowi
Foto: Republika/Agung Supri
Jokowi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta HE Syahrial menjamin Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (JoKowi) tidak terlibat dalam kasus rusaknya 13 bus Transjakarta dan Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB). Ia menduga munculnya nama pengusaha asal Solo, Michael Bimo Putranto, yang disebut sebagai orang dekat Jokowi, hanya sebuah intrik yang dilontarkan lawan politik mereka.

“Mengingat, tahun 2014 adalah tahun pemilu,” kata Syahrial di Jakarta, Selasa (11/3).

Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Boy Sadikin membantah Bimo masuk tim kampanye pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jokowi-Ahok. Namun, Boy mengaku kenal dengan pengusaha kayu asal Solo tersebut. “Setahu saya, di tim kampanye tidak ada nama Bimo,” ujarnya dalam konferensi pers di ruang fraksi PDI Perjuangan di gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa.

Boy menjelaskan, tim kampanye merupakan tim resmi yang dibentuk partai dan nama-namanya dilaporkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Di luar tim kampanye, ujarnya, ada tim sukses dan relawan yang jumlahnya sangat banyak. Mereka, kata Boy, biasanya berkumpul di posko kemenangan Jokowi-Ahok di Jalan Borobudur Nomor 22. “Saya mengenal Pak Bimo itu di posko,” katanya.

 

Setelah Jokowi-Ahok dilantik, Bimo menagtakan tim kampanye dan tim sukses langsung dibubarkan. Tujuannya agar tidak ada orang yang mengambil untung dari tim tersebut. Jika Dinas Perhubungan percaya Bimo dapat memengaruhi Jokowi, ia berpendapat hal itu merupakan tindakan yang sangat bodoh. Sebab, kata Boy, siapa pun bisa berpura-pura dekat dengan orang nomor satu di DKI tersebut.

Ketika dihubungi ROL, Bimo membenarkan tidak pernah menjadi tim sukses Jokowi-Ahok pada Pemilukada DKI. Namun, ia mengaku pernah menjadi tim pemenangan Jokowi saat kampanye Pemilukada Kota Solo. Bimo menduga, pencatutan namanya sebagai orang dekat Jokowi yang ikut bermain dalam pengadaan bus merupakan trik busuk yang dilakukan jelang pemilu untuk menjatuhkan kredibilitas Jokowi.

Pada kesempatan itu Bimo mengaku mengenal mantan kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono. Namun, ia membantah terlibat dalam “permainan” pengadaan bus Transjakarta dan BKTB. “Ya, kenal biasa. Saya sering bertemu dengan pejabat Dishub. Tapi ya ngobrol saja untuk berbagi ide-ide,” ujarnya ketika dihubungi ROL, Selasa (11/3).

Ia mengaku sebagai pengusaha kecil yang bergerak di bidang penjualan kayu. Karenanya, ia menolak jika dikatakan menjadi broker atau perantara antara Dishub dan pemenang tender bus. “Masak saya ikut lelang. PT saya apa? Mobil saja belum lunas. Boleh ditanya sama semua perusahaan pemenang tender, kenal tidak dengan Bimo,” kata Udar.

Bimo juga membenarkan mengenal Jokowi meski bukan kawan akrab. Ia mengaku mengenal Jokowi saat orang nomor satu di DKI tersebut masih tinggal di Solo. Saat itu, ia dan Jokowi sama-sama menjabat sebagai Wakil Ketua DPW PDI Perjuangan Jawa Tengah. Selain itu, ia dan Jokowi juga pernah sama-sama aktif di sebuah asosiasi pengusaha. “Dulu beliau ketua umum, saya ketua bidang tenaga kerja. Kita sama-sama tukang kayu,” kata Bimo.

Namun, sejak Jokowi hijrah ke Jakarta, Bimo mengaku tidak pernah lagi berhubungan dengan mantan wali kota Solo tersebut. Diakui Bimo, beberapa kali ia berusaha menghubungi Jokowi via telepon dan pesan singkat, namun tidak pernah dibalas. “Saya tungguin di Balai Kota juga tidak ditemui,” ujarnya seraya membantah pernah menjadi tim sukses Jokowi dalam Pemilukada Kota Solo.

Nama Jokowi diduga dijual broker yang menyebabkan rusaknya 13 bus Transjakarta dan BKTB. Dugaan ada penyimpangan dalam proyek bus karatan itu memunculkan nama Bimo. Anggota DPRD Kota Solo periode 2004-2009 itu disinyalir ikut bermain dalam proyek pembelian bus senilai Rp 1,5 triliun tersebut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebelumnya mengatakan Bimo memiliki rekam jejak buruk. Ia menduga Bimo kerap menjual nama Jokowi untuk mendapat keuntungan. “Aku sudah tanya Pak Jokowi. Itu anak memang dari dulu di Solo suka begitu. Suka memanfaatkan nama Pak Jokowi,” katanya, Senin (10/3).

Bimo membantah tudingan Ahok yang menyebut ia menjual nama Jokowi. “Tidak benar Bimo suka minta-minta proyek. Biarpun saya miskin, saya tidak pernah minta-minta,” ujarnya menegaskan. Justru, Bimo mengungkapkan Ahok-lah yang sering meminta bantuan kepadanya. Bantuan itu dalam bentuk dukungan agar menang dalam pemilu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement