Ahad 19 Jan 2014 21:49 WIB

Benarkah Megawati Sakit Hati Pada SBY?

Rep: Muhammad Akbar Wijaya/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri
Foto: Antara
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Pimpinan Pusat Partai (DPP) Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memastikan Megawati Soekarno Putri tidak pernah merasa sakit hati kepada SBY yang mengalahkannya pada Pilrpes 2004 dan 2009. Sebaliknya, Megawati justru merasa legawa dengan kekalahannya maju di Pilpres 2004 dan 2009.

"Beliau (Megawati) menerima kekalahan itu dengan legawa," kata Ketua DPP PDIP, Rochmin Dahuri ketika dihubungi ROL, Ahad (18/1).

Rochmin menyatakan sikap legawa Megawati misalnya terlihat dari penolakan bersikap anarkis. Padahal saat itu, kata Rochmin, banyak massa pendukung Megawati yang tidak terima dengan kemenangan SBY karena menilai syarat kecurangan.

Megawati, imbuh Rochmin, juga tidak mengambil langkah hukum atas kekalahan yang dialaminya dua kali berturut-turut. "Kalau tidak menerima kekalahan, Megawati tidak akan melarang rakyat atau PDIP bersikap anarkis," ujarnya.

Sikap 'dingin' yang ditunjukan Megawati kepada SBY ternyata lebih dimaksudkan sebagai bentuk pembelajaran kepada publik. Rochmin menjelaskan, selama ini Megawati banyak tidak sependapat dengan kebijakan-kebijakan SBY.

Dalam konteks itu Megawati ingin menunjukan kepada publik bahwa politik yang sehat bukanlah politik yang berpura-pura. "Megawati tidak suka bergunjing di belakang tapi kalau bertemu peluk-pelukan. Itu sama saja membodohi rakyat," katanya.

Sebelumnya dalam buku terbarunya 'Selalu Ada Pilihan' SBY menyebut ada pihak yang tidak terima dengan kemenangannya di Pilpres 2004. Meskipun SBY tidak spesifik menyebut pihak itu adalah Megawati, namun banyak kalangan mengganggap apa yang ditulis SBY ditujukan kepada Megawati. "Susah untuk dimungkiri pernyataan itu tidak dialamatkan untuk ketua umum kami," ujar Rochmin.

Berita Lainnya

Rekomendasi