Ahad 22 Dec 2013 16:23 WIB

Kasus Atut Kado Tragis di Hari Ibu

Rep: Indah Wulandari/ Red: Nidia Zuraya
 Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah menggunakan rompi tahanan usai pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (20/12).   (Republika/ Wihdan Hidayat)
Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah menggunakan rompi tahanan usai pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (20/12). (Republika/ Wihdan Hidayat)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penetapan dan penahanan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah sebagai tersangka kasus korupsi menjadi tragedi yang menyedihkan bagi perempuan Indonesia, terutama bagi mereka yang berkiprah dalam dunia politik. Peristiwa itu sekaligus menjadi kado yang menyedihkan di Hari Ibu yang diperingati pada 22 Desember.

“Hari ini, sebenarnya hari yang bersejarah bagi perjuangan kaum perempuan. Sungguh disayangkan, Atut jadi tersangka kasus korupsi. Ini tragedi yang menyedihkan di Hari Ibu,” kata Ketua Korps PMII Putri Jawa Timur (KOPRI), Athik Hidayatul Ummah, Ahad (22/12).

Apalagi, menurutnya, Atut hingga kini tercatat sebagai satu-satunya perempuan yang bisa menduduki jabatan Gubenur di tanah air. “Betapa sulitnya, perempuan bisa menjadi Gubernur. Di banyak tempat, termasuk di Jatim, tokoh perempuan gagal menjadi gubernur. Sama beratnya dengan perjuangan para caleg perempuan untuk duduk di kursi legislatif,” ujarnya.

Lebih menyakitkan lagi, kata Athik, kasus yang menimpa Atut, telah menambah daftar politisi perempuan yang bermasalah dengan kasus hukum. Sebelum Atut, Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati telah terlebih dahulu masuk bui gara-gara kasus yang sama.

“Mereka ini adalah korban pragmatisme politik dan demokrasi transaksional yang merusak tatanan. Sungguh menyedihkan. Tapi apa boleh buat korupsi harus tetap diberantas,” jelas aktivis perempuan ini.

Meski demikian, kasus yang menimpa Atut, Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati, jangan sempai menyurutkan langkah para perempuan Indonesia untuk terus berkiprah di jalur politik. Justru kasus yang menimpa mereka, bisa menjadi bahan renungan dan pelajaran agar ke depan lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil kebijakan.

Lebih lanjut, ia mengatakan, bagi kaum ibu yang berkiprah dalam ranah domistik keluarga, kasus yang menimpa para figur politisi perempuan itu patut menjadi bahan pelajaran. Bahwa Pendidikan antikorupsi perlu dimulai dari keluarga sejak dini.

“Sejak dini, anak-anak perlu dibekali pendidikan antikorupsi. Ini bahan refleksi berharga di tengah perayaan Hari Ibu yang sedang diperingati secara nasional,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement