Kamis 19 Dec 2013 16:58 WIB

Enam Budaya Jabar Jadi Warisan Nasional

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dewi Mardiani
 Kesenian sisingaan pada acara 'Kampung Wisata Kreatif'  di daerah Dago Pojok dan Tanggulan,Bandung, Ahad (27/10).   (Republika/Edi Yusuf)
Kesenian sisingaan pada acara 'Kampung Wisata Kreatif' di daerah Dago Pojok dan Tanggulan,Bandung, Ahad (27/10). (Republika/Edi Yusuf)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Enam budaya asal Jawa Barat (Jabar) ditetapkan sebagai warisan budaya nasional. Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Nunung Sobari, warisan budaya tersebut adalah Kujang, Gotong Singa, Pantun Betawi, Calung, Ronggeng Gunung, dan Aksara Sunda.

‘’Dari 77 warisan budaya daerah yang ada di Indonesia, enam warisan Jabar ditetapkan sebagai warisan budaya nasional. Kita, harus bangga,’’ ujar Nunung kepada wartawan, Kamis (19/12).

Menurutnya, dengan pengakuan ini, harus menjadi motivasi bagi semua masyarakat Jabar. Karena, kita punya warisan budaya yang diakui Indonesia, bahkan ada yang sudah diakui oleh UNESCO, yakni angklung dan batik sudah menjadi warisan budaya dunia. Jabar, memberikan kontribusi yang besar terhadap kedua benda cagar budaya dunia tersebut. ‘’Efeknya, seniman Jabar harus terus berkarya dengan pengakuan ini,’’ katanya.

Dikatakan Nunung, penetapan tersebut tak terlepas dari peran publikasi. Karena, budaya Jabar akan semakin dikenal kalau ada yang memublikasikannya. Selain itu, pameran dan promosi kebudayaan harus terus dilakukan untuk mengangkat kekayaan budaya Jabar yang lainnya ke pentas nasional dan internasional.

 

Setelah memperoleh pengakuan dari pemerintah pusat, kata dia, pengrajin di Jabar harus bisa memanfaatkan kesempatan ini. Misalnya, pengrajin di Subang bisa membuat cendera mata Gotong Singa. Agar, kesenian Sisingaan bisa semakin popular. Selain itu, kerajinan Sisingaannya bisa di bawa ke daerah lain. "Selain itu, ada penambahan value atau nilai,’’ katanya.

Nunung mengaku, masih banyak hasil kerajinan asal Jabar yang kurang dikenal. Kendala yang ditemukan, kata dia, adalah publikasi, permodalan, dan kreasi. Harusnya, ada pengembangan karya, hal baru, tapi akar budayanya Jabar. ‘’Pengemasan harus bagus agar bisa menjadi karya dan memiliki nilai tambah. Harus terus ada event,’’ katanya.

Menurut Pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jabar, Admarius, Dekranasda Jabar melihat belum optimalnya sentra-sentra kerajinan di Jabar karena sangat lemah dari sisi promosi. Apalagi, data base hingga saat ini belum lengkap. Pengrajin yang berhasil terdata oleh Dekranasda Jabar, baru 5.000 pengrajin. " Itu yang terkumpul. Itu masih kecil. Karena jumlahnya hampir 500 ribu."

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement