REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendatangkan ulama dari Timur Tengah guna memberikan pencerahan kepada para narapidana kasus terorisme. Tujuannya untuk memberikan pemahaman yang benar tentang agama.
"Kami mendatangkan ulama itu untuk memberikan koreksi terhadap paham keliru yang dianut para terpidana terorisme," kata Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal Esa Permadi di Denpasar, Kamis (12/12), dalam Sosialisasi Pencegahan Terorisme dan Hasil Penelitian Terorisme.
Ia berkata, selama ini para terorisme kerap menggunakan paham agama sebagai hujjah atau alasan mereka melakukan tidak pidana terorisme. Esa menjelaskan, tiga ulama yang didatangkan BNPT berasal dari Mesir dan Arab Saudi yang dahulunya merupakan mantan tokoh Jamaah Islamiyah.
"Para ulama itu berpandangan bahwa paham aliran keras itu sudah dianggap salah karena Islam itu rahmat bagi seluruh alam," ucapnya.
Esa menyebut, Bali kini bukan lagi menjadi target utama aksi terorisme karena kearifan lokal masyarakatnya telah kuat dan menyatu. "Sekarang persatuan dan kesatuan sudah semain kuat, sehingga tidak hanya bisa mencegah teroris tetapi juga aksi radikal," kata Esa.
Menurutnya, semenjak peristiwa Bom Bali I tahun 2002 dan Bom Bali II tahun 2005, masyarakat, aparat hukum termasuk "pecalang" atau petugas keamanan adat menyatu untuk bersama menjaga keamanan Pulau Dewata.