Senin 09 Sep 2013 12:01 WIB

Waspadai Tahu Berpengawet

Rep: Mas Alamil Huda/c30/ Red: Nidia Zuraya
Tahu berformalin
Tahu berformalin

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN – Meski produsen tahu dan tempe sudah berhenti produksi, namun pedagang gorengan di Jalan Arya Putra, Pamulang, Tangerang Selatan tampak masih menjual tempe goreng pada hari ini (Senin, 9/9).

Wari (29 tahun), penjual gorengan, mengatakan ia mengetahui bahwa mulai Senin (9/9) hingga Rabu (11/9) pekan ini tahu dan tempe tidak akan ada di pasaran. Maka dari itu untuk menyiasatinya, Wari menyediakan tempe lebih banyak sehari sebelumnya. “Mungkin besok sudah tidak jual tempe goreng lagi,” ujarnya saat berbincang dengan ROL.

Ia juga mengatakan jika tempe bisa bertahan lebih lama daripada tahu. Lebih lanjut Wari menjelaskan, tahu yang bisa bertahan lebih dari satu hari, hampir bisa dipastikan kalau tahu itu mengandung pengawet.

Wari menambahkan dirinya pernah mencoba membandingkan ketahanan tahu. Untuk tahu basah, tidak akan bisa bertahan lebih dari satu hari karena jika lebih, tahu akan hancur dan bau tidak sedap akan muncul. Jika bisa lebih dari sehari dan tahu masih segar maka tahu itu pasti mengandung pengawet.

Wari juga pernah mencoba melakukan hal yang sama untuk tahu goreng atau biasa disebut tahu pong. Tahu pong hanya akan mampu bertahan dua hari jika tidak memakai pengawet. Setelah itu tahu akan ditumbuhi jamur berwarna hitam. “Banyak tahu berpengawet sekarang Mas,” katanya kepada ROL. Berbeda dengan tempe, Wari mengatakan tempe mampu bertahan hingga 3 sampai 4 hari.

Di gerobak gorengan Wari, hanya ada bakwan, pisang goreng, dan risoles. Tempe goreng juga ada meskipun dengan jumlah tak lebih banyak dari yang lain. Ia berharap tempe dan tahu pasokannya lebih stabil. “Biasanya yang paling laris ya tempe goreng itu,” ujarnya sambil menggoreng bakwan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement