Senin 26 Aug 2013 11:08 WIB

Wow, Astronomi di Indonesia Paling Maju se-Asia Tenggara

Rep: Lingga Permesti/ Red: Heri Ruslan
 Sejumlah warga dan penggiat astronomi amatir mengamati fenomena alam transit planet Venus di Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (6/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)
Sejumlah warga dan penggiat astronomi amatir mengamati fenomena alam transit planet Venus di Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (6/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang Tedjasukmana mengklaim bahwa astronomi di Indonesia paling maju se-Asia Tenggara.

Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah observasi dan jumlah ahli astronomi di Indonesia.

"Terlebih dengan hadirnya UU Keantariksaan Nomor 21 tahun 2013. Payung hukum ini setidaknya semakin meningkatkan perkembangan astronomi dan keantariksaan di Indonesia,"kata dia saat membuka kegiatan International School for Young Astronomer 2013 di Kantor LAPAN, Bandung, Senin (26/8).

Di Asia Pasifik, kata dia, astronomi Indonesia juga semakin berkembang dan diminati banyak peneliti dari luar negeri.

Hal yang sama diungkap oleh Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN, Clara Y.Yatini. Menurutnya, astronomi semakin diminati masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya minat anak-anak sekolah yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai astronomi dan alam semesta. Mereka, kata dia, mencari tahu tentang antariksa, teknologi berbasis antariksa, bagaimana antariksa dan apa yang ada di dalamnya.

LAPAN, kata dia, sering kali membimbing anak sekolah dengan menyelenggarakan kegiatan seperti festival sains dan antariksa. "Dan peminat semakin meningkat setiap tahunnya. Sehingga kami menyiapkan mata ajaran yang terkait dengan alam semesta sekaligus praktiknya," kata dia.

Astronom asal Indonesia, ujarnya,  juga sering kali berkancah di dunia internasional meskipun jumlahnya masih bisa dihitung oleh jari. Peningkatan lainnya juga dibuktikan dengan hadirnya planetarium di daerah-daerah. Ia mencontohkan, di Kalimantan Timur tepatnya di Tenggarong, sudah ada planetarium yang cukup modern untuk dinikmati masyarakat. Ia juga menyebutkan, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam juga telah memiliki planetarium.

Sayangnya, kata dia, belum ada lembaga pendidikan formal yang ada di daerah-daerah, sehingga, Bandung masih menjadi tujuan mahasiswa dan peneliti astronomi.

"Ketertarikan sudah banyak, sayang belum diformalkan menjadi sebuah lembaga pendidikan," kata dia.

Meskipun peminat ilmu astronomi meningkat, ujarnya, kurikulum sekolah tidak banyak menyinggung soal sains dan antariksa. Sehingga, sangat disayangkan apabila peminat banyak, namun pendidikan formal tidak menunjang untuk pengembangan keilmuan ini.

Perkembangan astronomi juga terhambat masalah klasik yakni dana. Sehingga, kata dia, astronomi kekurangan fasilitas dan pengadaan peralatan. "Yang bisa kita lakukan yakni tetap erusaha membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih mengetahui dan mencintai antariksa," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement