Jumat 26 Jul 2013 11:30 WIB

Nama Provinsi Jawa Barat Diusulkan Diganti

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Karta Raharja Ucu
Gedung Sate Bandung
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Gedung Sate Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sejumlah tokoh dan akademisi Jawa Barat mengusulkan ke DPRD Jabar agar nama Provinsi Jabar diganti dengan nama yang berjati diri Sunda. Misalnya, menjadi Provinsi Pasundan, Tanah Sunda, atau Tatar Sunda.

Usulan tersebut, diserahkan sejumlah tokoh dan akademisi yang tergabung dalam Komunitas Pengkaji Pergantian Nama Provinsi Jabar itu dalam bentuk petisi ke Komisi A DPRD Jabar, Kamis (25/7) petang.

Menurut juru bicara Komunitas Pengkaji Pergantian Nama Provinsi Jawa Barat, Asep Saeful Muhtadi, komunitasnya  telah mengkaji perubahan nama tersebut dilihat baik secara filosofi, historis, maupun ekonomis. Namun, pihaknya tidak akan mematok agar nama itu menjadi Provinsi Pasundan. Karena, penamaan provinsi baru itu masih bisa diperbincangkan.

"Kajian ini berdasarkan pertemuan sejumlah tokoh pada 17 Desember 2012," ujar Asep kepada wartawan.

Menurut Asep, dilihat dari sisi filosofis, historis, ekonomis, juga sisi yang lainnya, nama Jabar itu tidak relevan dan tidak mencerminkan jati diri Sunda. Karena, Jabar bukan nama provinsi hanya penamaan untuk membedakan letak geografis.

 

Secara geografis pun, kata dia, nama Jabar tidak relevan. Sebab saat ini sudah ada daerah yang lebih barat di pulau Jawa, yakni Provinsi Banten dan DKI Jakarta. Secara pskilogis pun, nama Jabar tidak akan berdampak apa-apa pada penghuninya. Karena nama itu mencerminkan jati diri, maka harus diubah.

"Namun Pasundan itu bukan harga mati. Jika ada yang lebih cocok dan relevan untuk mencerminkan jati diri Sunda itu ya silakan. Pokoknya ada nilai dan unsur kesundaaannya," sebutnya.

Sekarang, kata Asep, saatnya urang Sunda tidak lagi menggunakan istilah 'Mangga Tipayun' tapi 'Punten Kapayunan'. Jadi, jati diri orang Sunda harus ditonjolkan.

Disinggung imej ada beberapa wilayah Jabar yang bukan bagian dari Sunda, seperti daerah Pantura, Asep berpendapat, hal itu persepsi atau imej yang keliru. Sebab, daerah di Jabar itu merupakan wilayah kesundaan.

Kalau pun di Cirebon atau Indramyu ada bahasa Jawa, itu bukan Jawa Cirebonan tapi Sunda Cirebonan atau Sunda Majelengkaan, atau Sunda Indramayuan. "Cirebon, Majalengka, dan Indramayu itu berdasarkan sejarah dan didirikan oleh anak dan cucu Prabu Siliwangi. Saya juga aneh, mengapa muncul ada Jawa Cirebonan. Padahal itu Sunda Cirebonan," katanya.

Keuntungan dari perubahan nama provinsi, masih kata Asep, adalah untuk identitas politis. Jadi tujuannya bukan pemekaran provinsi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement