Senin 10 Jun 2013 10:07 WIB

KAI: KRL Bandung Harus Siap Infrastruktur

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: A.Syalaby Ichsan
  Rangkaian gerbong kereta api listrik (KRL) khusus wanita memasuki Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (1/10).   (Aditya Pradana Putra/Republika)
Rangkaian gerbong kereta api listrik (KRL) khusus wanita memasuki Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (1/10). (Aditya Pradana Putra/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah berencana untuk membangun Kereta Rel Listrik (KRL) di Bandung. PT KAI menilai rencana tersebut dapat mengatasi kepadatan penumpang komuter yang saat ini menggunakan Kereta Rel Diesel.

Rute KRL yang melingkupi Padalarang-Cicalengka dinilai bakal mampu membawa penumpang lebih banyak dengan mengintensifkan trafik. "Penggunaan energi listrik menekan biaya operasional KRL lebih efisien. Perawatannya juga lebih mudah," katanya Manajer Humas PT KAI Bambang S Prayitno, Senin (10/6).

Menurut Bambang, pembangunan KRL nantinya menjadi solusi angkutan masal.  Namun, pemerintah perlu memperhatikan kesiapan insfrastruktur terutama palang perlintasan yang melintasi jalan umum.

Pemerintah, ujarnya, harus membuat perlintasan sebidang untuk KRL agar tidak ada palang perlintasan di jalan raya. Dikatakan Bambang, palang  tersebut akan menimbulkan masalah baru. Misalnya, rawan kecelakaan serta menimbulkan kemacetan.

 

''Kondisi ini terjadi di Jakarta. Di jalan tertentu macet akibat tingginya buka tutup pintu perlintasan," kata Bambang. 

Pintu perlintasan sebidang, kata Bambang, harus diperhatikan pintu karena kalau KRL beroperasi, otomatis traffic bertambah. "Akan terjadi peningkatan frekuensi penutupan pintu perlintasan. Yaitu, sekitar setiap 2-3 menit. Saat ini, rata-rata setiap 30 menit," katanya.

Kalau itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan, kepadatan dan kemacetan lalu lintas semakin tinggi mengingat ruas jalan di Kota Bandung pendek-pendek. Karenanya, untuk merealisasikan proyek tersebut, perlu pertimbangan dan pemikiran yang matang. Ini dilakukan, untuk meminimalisir efek beroperasinya KRL tersebut.

Di Bandung, menurut Bambang, jumlah pintu perlintasan cukup banyak. Di Kota Bandung, terdapat sekitar 32 titik, yang terdiri atas 17 titik tidak dijaga, 29 titik dijaga, dan 3 titik liar. Artinya, jalur tersebut akan beberapa kali dilintasi kereta dan dikhawatirkan menimbulkan kemacetan.

Perlu diketahui, proyek pembangunan KRL untuk wilayah Bandung tersebut, mulai dilakukan pemerintah pusat. Investasi pembangunan KRL diperkirakan mencapai 1,7 triliun. Dana tersebut hasil kerjasama dengan luar negeri. Pembangunan insfrastruktur diharapkan mulai 2014 mendatang. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement