REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI TIMUR -- Jumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, dinilai masih kurang.
"SMA Negeri ada satu, secara negeri memang masih kurang. Tapi kan ada SMK 6, ya artinya memang dirasakan masih kurang," kata Ketua Komisi D DPRD Kota Bekasi, Sardi Effendi kepada wartawan, Sabtu (9/3).
Namun, membangun sekolah baru menurutnya perlu kajian yang matang. Sebab, pembangunan sarana dan prasarana harus dilakukan terlebih dahulu. Sehingga kegiatan belajar mengajar siswa tidak terganggu.
"Jadi daftarlah ke sekolah yang ada gedung dan bangunannya. Jangan hanya plangnya saja, pada akhirnya gak taunya sekolahnya di SD," tutur Sardi.
Guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap sekolah negeri, Pemerintah Daerah disarankan membuat perencanaan secara matang.
"Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu, rasio angka yang lulus bisa dihitung. Dengan angka kelulusan itu dibuatlah perencanaan kebutuhan sekolah negeri berapa oleh pemerintah daerah," tutur Sardi.
Sebelumnya, ratusan siswa SMAN 18 di Jalan KH Agus Salim, Bekasi Jaya terpaksa harus belajar bergantian di gedung SDN 3 Bekasi. Pasalnya, sekolah tersebut tidak mempunyai gedung untuk kegiatan belajar mengajar.
Para siswa tersebut terpaksa harus belajar mulai pukul 12.30 sampai 17.30 WIB. Sekolah yang dibangun sejak 2011 tersebut memiliki sekitar 200 siswa yang belajar di lima ruangan kelas di SDN 3 Bekasi. Tiga ruang kelas digunakan siswa kelas satu, dan dua ruang kelas digunakan siswa kelas dua.
Sementara itu, Emanuel, Humas SMAN 18 mengatakan sekolahnya didirikan lantaran hanya terdapat satu SMA Negeri di Bekasi Timur, yakni SMAN 1 Bekasi. "Bekasi Timur dengan penduduk yang banyak dan wilayah besar, sekolah negerinya cuma satu," ungkapnya