REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia mengakui masih mengirim peralatan militer dan senjata kepada Pemerintah Suriah dan Mali. Hal itu dinilai telah mempertahankan perang berlangsung di negara Arab dan Afrika tersebut.
Kepala Eksportir Senjata Rusia Rosoboronexport, Anatoly Isaikin mengatakan Rusia mengirim sistem pertahanan udara ke Presiden Bashar al-Assad. Namun, mereka tidak mengirim rudal Iskander yang dicari Damaskus.
"Kami terus memenuhi kewajiban pada kontrak untuk mengirim kebutuhan militer," ungkap Isaikin kepada kantor berita Interfax yang dikutip Al-Arabiya, Kamis (14/2).
Ia menolak laporan Rusia berencana memasok senjata canggih, MiG29-M bagi Damaskus. Meski demikian, mereka mengkonfirmasi adanya kesepakatan untuk mengirimkan pelatih jet Yak-130.
Isaikin mengatakan Suriah berada di nomor 13 dari 14 negara yang menerima suplai persenjataan dari Rusia. Berulang kali, Rusia dikecam negara-negara Barat dan Arab untuk dukungannya pada pemerintah Suriah. Bahkan, jumlah korban tewas di Suriah telah mencapai 70 ribu orang.
Sementara Isaikin juga mengungkap Moskow memiliki kontak militer dengan Pemerintah Mali. Hal ini karena Prancis baru-baru ini mengirimkan pasukannya untuk mengusir kelompok bersenjata dari Mali.
"Kami telah memberikan senjata api. Dua pekan lalu pesanan lain dikirim. Ini pengiriman yang legal. Kami juga tengah membicarakan untuk pengiriman yang lebih banyak," ungkap dia.