Sabtu 09 Feb 2013 04:09 WIB

Daging Mahal, Begini Aksi Pedagang Bakso

Bakso  (ilustrasi)
Foto: dok.Republika
Bakso (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BOJONEGORO---Sejumlah pedagang bakso di Bojonegoro, Jatim, mengurangi pembelian daging sapi hingga 50 persen, setelah harga daging sapi naik menjadi Rp 85.000/kilogram sejak dua pekan ini.

"Saya biasanya menjual bakso dengan bahan daging sapi 3 kilogram per hari, tapi saat ini saya kurangi hanya membeli 1,5 kilogram, yang kemudian saya campur dengan daging ayam," kata seorang pedagang bakso asal Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Lasirin (43).

Didampingi penjual bakso asal Desa Sukosewu, Kecamatan Sukosewu, Lantip (36), ia mengaku, bakso yang dijual dengan campuran daging ayam itu, tidak mengurangi jumlah pembeli karena rasa bakso daging sapi murni dengan daging campuran tidak jauh berbeda.

Mengenai berkurangnya para pedagang bakso dalam membeli daging sapi ini, dibenarkan pedagang daging sapi di Pasar Besar Bojonegoro, Arik M Ali dan Abdul Aziz. "Pedagang bakso langanan saya, termasuk pedagang penthol bakso ada 50 orang mulai mengurangi pembelian daging sapi, sejak sepekan terakhir," kata Arik.

Bahkan, lanjut dia, para pedagang penthol bakso ada yang mencampur baksonya dengan jeroan ayam karena sudah tidak mampu lagi membeli daging sapi.

Meski demikian, ia menyatakan, sejumlah pedagang bakso yang menjaga kualitas baksonya, yang sebagian asal Solo, Jateng, tetap berusaha bertahan dengan bahan daging sapi.

"Tapi jumlah pedagang bakso yang tetap bertahan memanfaatkan daging sapi hanya sebagian kecil. Selain itu, harga baksonya yang biasanya Rp 5.000 per mangkuk, naik menjadi Rp 7.000 per mangkuk," ujar Arik.

"Yang jelas, pembeli daging sapi semakin berkurang, tidak hanya pedagang bakso, juga masyarakat lainnya," jelas Abdul Aziz, menegaskan.

Ia mencontohkan, dirinya biasanya mampu menjual dua ekor sapi besar per hari, tapi sapi saat ini sapi yang disembelih untuk dijual tidak sebesar ketika harga daging sapi masih wajar.

"Harga sapi yang biasanya saya beli sekitar Rp 10 juta per ekor, saat ini sudah naik menjadi Rp 15 juta per ekor," jelasnya.

Baik Abdul Aziz, juga Arik sependapat, mengatasi tingginya harga daging sapi tidak ada cara lain, kecuali pemerintah melakukan impor sapi. "Impornya sapi bukan daging sapi untuk menambah populasi sapi di masyarakat peternak," jelas Abdul Aziz.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement