Senin 14 Jan 2013 22:41 WIB

Pengungsi Syiah Sampang Didera Gizi Buruk

  Personel Brimob mengawal sejumlah perempuan dan anak-anak, ketika berlangsungnya evakuasi dari tempat persembunyian mereka, di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran, Sampang, Jatim, Senin (27/8). (Saiful Bahri/Antara)
Personel Brimob mengawal sejumlah perempuan dan anak-anak, ketika berlangsungnya evakuasi dari tempat persembunyian mereka, di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran, Sampang, Jatim, Senin (27/8). (Saiful Bahri/Antara)

REPUBLIKA.CO.ID, SAMPANG -- Kondisi pengungsi Syiah korban tragedi Sampang, Madura kini kian memprihatinkan karena didera berbagai macam penyakit, termasuk demam berdarah dengue akibat gizi buruk pascapemerintah setempat mencabut masa tanggap darurat.

"Mereka kekurangan gizi karena bantuan makanan dari pemerintah sudah dihentikan dengan alasan masa tanggap darurat telah habis," kata juru bicara relawan kemanusiaan dari Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, Abd Kadir di Sampang, Senin (14/1) malam.

Dalam rilis yang disampaikan kepada ANTARA, Abd Kadir menjelaskan kini kondisi kesehatan mereka yang tinggal di lokasi pengungsian di gedung Olahraga (GOR) Wijaya Kusuma sangat memprihatinkan. 

Selain kekurangan makanan, karena pasokan bantuan dari pemkab setempat telah dihentikan, para pengungsi itu, juga kekurangan air minum dan air untuk mandi.

Bahkan, imbuh dia, untuk bisa mandi, para pengungsi ini terpaksa harus membeli dengan menggunakan tangki. "Yang jelas dari sisi kesehatan mereka itu juga sangat tidak sehat. Air kurang, makanan juga seperti itu," katanya menjelaskan.

Selain bantuan pasokan bantuan makanan, bantuan obat-obatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang juga telah dihentikan sejak sebulan lalu. Sebagian pengungsi saat ini diserang penyakit demam berdarah dan membutuhkan bantuan pengasapan.

"Kami berharap melalui informasi di berbagai media ini, ada pihak-pihak yang terketuk hatinya untuk membantu kondisi mereka di sana," kata Abd Kadir.

Warga Syiah yang menjadi korban tragedi kemanusiaan di Sampang yang kini tinggal di lokasi pengungsian itu mencapai 200 orang lebih, terdiri dari laki-laki, perempuan, tua dan muda, serta anak-anak.

Dua di antara para pengungsi ini, sedang dalam kondisi hamil, bernama Nyonya Sahrul dengan usia kandungan 8 bulan, dan Maidi dengan usia kandungan 9 bulan.

Kedua ibu hami ini, menurut Abd Kadir, juga kekurangan gizi, dan tidak bisa memeriksakan kehamilannya secara rutin ke rumah sakit. "Karena kalau periksa, dia kan harus bayar, sedangkan kita tahu sendiri para pengungsi ini tidak memiliki uang," katanya menjelaskan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement