REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Ayu Tria, penderita leukimia yang meninggal di RSAB Harapan Kita, di tengah kesibukan kru film syuting sinetron Love in Paris dikenal sebagai anak yang ceria.
Tingkah manjanya tak terlupakan. Selain itu dia anak yang mandiri dan pengertian. Dia tahu saat dia sakit, orangtuanya, terutama Ibunya kelelahan menggendongnya kesana kemari.
Agar tak merepotkan ibunya Ayu minta dibelikan sepeda. Sehingga ibunya tak perlu lagi menggendongnya. Ibunya sendiri sudah berjanji akan membelikannya pada Januari nanti.
Namun niat itu belum tersampaikan, Yang Maha Kuasa telah memanggilnya untuk selamanya. Ayu sendiri anak yang pemurah. Setiap diberi uang jajan, ia sering mentraktir kawan-kawan sekolahnya.
Ketika sekolah pulang sekolah pun, Ayu tak mau merepotkan keluarganya untuk menjemputnya. Ia memilih naik angkutan umum, pulang bersama temannya.
Ayu mestinya telah duduk di kelas empat sekolah dasar, namun karena penyakit leukimia itu, dia cuma bisa merasakan duduk di kelas satu. Begitu rapor mengumumkan dia berhasil naik ke kelas dua, penyakitnya malah makin parah.
Ayu juga tak suka Ibunya menungguinya di sekolah sampai bel pulang berbunyi, maka keputusannya berhenti sekolah makin bulat. walapun ia sudah pandai membaca, menulis dan berhitung.
Di sela-sela perawatan, Ayu sering sekali menggambar dan mewarnai tokoh Barbie hingga bunga-bungaan. Ayah dan tantenya, Anjar, seringkali membelikan buku mewarnai itu di jalan.
Kadangkala, Ayu berteriak,"Sakit....," saat orang-orang tak sengaja menyenggol tubuhnya. Namun hanya itu, ia tak pernah rewel dan menangis.
Kemarin, saat dia dikuburkan di TPU Prumpung Panjaitan, sebagian anak kecil tetangga Ayu ikut mengantar. Tak terkecuali orang dewasa dan orang tua. Sifatnya membuatnya disukai hampir seluruh kelurahan Pisangan Baru.