Sabtu 22 Dec 2012 17:41 WIB

Bahaya, Banyak Makanan Ilegal di Indonesia!

Rep: Mansyur Faqih / Red: Citra Listya Rini
Razia makanan kadaluarsa, ilustrasi
Razia makanan kadaluarsa, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan, jumlah makanan dan minuman ilegal banyak di Tanah Air. 

"Kalau mau kita cari, itu ada di hampir seluruh Indonesia. Tinggal kita lihat berapa persen yang beredar di pasar," kata Sekjen Gapmmi, Franky Sibarani ketika dihubungi, Sabtu (22/12).

Sebelumnya, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Yogyakarta menemukan 407 jenis makanan yang tidak memenuhi standar keamanan dan mutu konsumsi dalam operasi menjelang Natal dan Tahun Baru 2013. 

Dari 407 jenis makanan tersebut terdiri atas 110 makanan kedaluwarsa, 252 makanan tanpa izin edar dan 45 makanan dengan kemasan rusak.

 

Temuan tersebut, diperoleh dari operasi yang dilakukan di 24 swalayan dan 83 toko atau kios di wilayah kabupaten dan kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai 10 Desember hingga 19 Desember 2012.

Menurut Franky, temuan BBPOM Yogyakarta itu hanya sebagian kecil dari penyalahgunaan yang ada di Indonesia. Biasanya, itu dilakukan oleh pelaku usaha yang nakal atau produk impor yang masuk dari daerah perbatasan mau pun pelabuhan ilegal. 

Ia menambahkan, umumnya produk ilegal itu masuk melalui perbatasan dan pelabuhan yang tidak resmi. Paling banyak biasanya dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. 

"Kalau temuan di Yogyakarta itu sepertinya masuk dari Semarang, kemudian Solo baru ke Yogyakarta dan sekitarnya. Itu pun sumbernya bukan dari asing, tapi dikapalkan dari Kaltim atau Kalbar," ujar Franky.

Gapmmi, memang tidak memiliki data berapa banyak peredaran makanan atau minuman yang tidak layak konsumsi. Namun, dari data 2008-2009, ada sekitar  5-10 persen produk yang masuk dalam kriteria makanan dan minuman ilegal.

"Kalau produk makanan itu tak ada ijin edarnya, apapun jenis ijinnya, itu pasti ilegal. Yang ilegal itu harus dibeddakan yang dengan tidak layak konsumsi," jelas Franky.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement