Rabu 19 Dec 2012 12:43 WIB

RI-Malaysia Bahas Perbatasan

Rep: Eshti Maharani / Red: Setyanadivita Livikacansera
Gamawan Fauzi
Foto: Antara/Yudhi Mahatma
Gamawan Fauzi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –- Pertemuan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia membahas persoalan perbatasan. selama ini perbatasan kedua negara memang seringkali dipertengkarkan dan cakupan wilayahnya cukup luas. 

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi mengatakan batas Indonesia dan Malaysia cukup luas. Tercatat, di daratan saja mencapai 3000 kilo meter dan batas paling panjang berada di Kalimantan. 

Belum lagi batas lautan terutama di Selat Malaka yang seringkali menimbulkan konflik kedua negara. “Masih ada titik-titik yang masih kita rundingkan," katanya, Rabu (19/12). 

Ia mengatakan batas darat antara Indonesia dan Malaysia sebenarnya sudah selesai 100 persen, hanya tinggal beberapa segmen saja yang perlu diperbaiki. Terutama, batas atau patok yang rusak dan hilang dihantam ombak dan bergeser dengan sendirinya. 

Maka, lanjut dia, yang diperlukan sebenarnya adalah menentukan patok sesuai dengan koodinat yang disepakati. “Nah, kalau patok itu rusak atau hilang, kembalikan ke koordinat yang sudah disepakati. Kadang ini diisukan ada yang merusak, sengaja mencaplok wilayah,” katanya. 

Ia mengatakan perundingan itu harus bisa mengakomodasi kepentingan dua negara. Artinya, sama-sama menguntungkan dan jelas aturan dan rujukan yang ditetapkan. Formula yang disepakati untuk itu yakni berdasarkan bekas wilayah jajahan di masa lalu.  

Misalnya, di Kalimantan ada wilayah jajahan Inggris untuk Malaysia dan ada pula jajahan Belanda untuk Indonesia. Menurutnya, rujukan keduanya harus benar-benar disepakati.  “Sebetulnya, sudah ada kesepakatan titik-titik itu yang dibuat Belanda dan Inggris. Inilah yang jadi formula perbatasan dengan Malaysia,” katanya. 

Tak hanya soal perbatasan, Gamawan juga mengingatkan perbatasan identik dengan ekosistem dan budaya yang berkembang di wilayah tersebut. Seringkali keduanya memiliki kemiripan dan berujung saling klaim dan berpotensi menimbulkan konflik. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement