Kamis 29 Nov 2012 14:59 WIB

Ekonomi DIY Tumbuh 5,6 Persen

Rep: Heri Purwata/ Red: Djibril Muhammad
Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Mahdi Mahmudy mengatakan sampai triwulan III 2012 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dengan pertumbuhan sebesar 5,26 persen (ctc). Ke depan, setelah disahkan UUK DIY dapat digunakan sebagai momentum untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

"Pertumbuhan komulatif tersebut jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya sebesar 4,06 persen (ctc)," kata Mahdi di pada Pertemuan Tahunan Perbankan DIY Tahun 2012 di Yogyakarta, Kamis (29/11).

Dijelaskan Mahdi, konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah dan investasi masih menjadi penggerak utama ekonomi DIY. "Dengan pencapaian tersebut, kami optimis pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2012 akan berada kisaran 5,6 persen (yty). Pertumbuhan ini cukup baik, karena selama 10 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi DIY di bawah 5,5 persen," beber Mahdi Mahmudy.

Sedang pertumbuhan investasi, lanjut Mahdi, masih rendah. Hingga triwulan III tumbuh 4,43 persen (ctc) dan selama kurun waktu tiga tahun terakhir tumbuh 3,0-4,0 persen.

Di bidang perdagangan luar negeri, ekspor nonmigas menunjukkan kinerja baik. Nilai ekspor meningkat 31,98 persen (yty) dan ekspor meningkat 14,87 persen (yty). Ekspor DIY paling banyak ke Amerika Serikat 41 persen. Kemudian disusul Jepang 13 persen, dan Jerman 10 persen. "Komoditas ekspor terbesar didominasi pakaian jadi dan barang manufaktur," katanya.

Sedang impor DIY juga mengalami peningkatan, khususnya bahan baku untuk produk ekspor unggulan yaitu tekstil dan produk tekstil. Pertumbuhan ekonomi DIY, kata Mahdi, banyak ditopang sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor jasa, industri, dan bangunan.

"Dari empat sektor, PHR dan sektor bangunan dalam dua tahun terakhir kapasitasnya meningkat cukup tinggi. Hal ini terlihat dari maraknya pendirian properti komersial," katanya. 

Sementara perkembangan sektor industri justru tidak menggembirakan. Sampai kuartal III 2012, sektor industri mengalami pertumbuhan negatif sebesar 5,20 persen.

Meskipun pertumbuhan ekonomi DIY dalam dua tahun terakhir baik, kata Mahdi, namun ke depan masih dihadapkan beberapa tantangan. Di antaranya, krisis ekonomi Eropa dan Amerika. Belum adanya penyusunan rencana strategi dan action plan pasca disahkan UUK.

Sedang prospek tahun 2013, akan lebih baik. Faktor yang mendukung adalah tingginya investasi yang masuk ke DIY di bidang properti. Juga meningkatnya upah minimum regional (UMR). "Hal tersebut bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga tahun 2013 tetap tinggi," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement