Jumat 09 Nov 2012 09:30 WIB

Kerja Sama PTDI-Sukhoi Tunggu Investigasi Tragedi Sukhoi

Rep: Muhammad Iqbal/ Red: Fernan Rahadi
PT Dirgantara Indonesia
Foto: REzza Estily/Antara
PT Dirgantara Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  --  Kerja sama antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Sukhoi Civil Aircraft dalam rangka pembuatan ekor pesawat Sukhoi Superjet 100 masih harus tertunda. 

Menurut President Director PT DI Budi Santoso, tertundanya kerja sama ini berkaitan erat dengan kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Jawa Barat, Mei lalu.

Meskipun demikian, Budi menyebut PTDI masih terus menjalin komunikasi dengan manajemen Sukhoi Civil Aircraft.  "Peluangnya masih terbuka," tutur Budi kepada wartawan selepas penandatangan kerja sama antara PT DI dengan Airbus Military dalam meluncurkan NC 212 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (8/11).

Budi menjelaskan, pada dasarnya manajemen Sukhoi Civil Aircraft masih menunggu hasil investigasi kecelakaan Mei silam. "Kita tunggu itu.  Setelah itu, kita bicarakan lagi," ujar Budi. 

Budi menegaskan, masalah tertundanya kerja sama ini bukan karena masalah harga. Sebelumnya, PTDI diwacanakan akan mengerjakan bagian ekor dari pesawat Sukhoi Superjet 100 mulai 2014 mendatang.  Ekor yang akan dikerjakan antara lain sayap horizontal (kiri dan kanan) dan sayap vertikal. 

Dalam kesempatan ini, Budi menyinggung minimnya dukungan pemerintah terhadap industri dirgantara dibandingkan dengan negara-negara lain.  Menurutnya, saat ini banyak perusahaan penerbangan yang didukung oleh pemerintah. 

"Tanpa support pemerintah akan sulit dilawan. Sebab yang dilawan bukan perusahaan saja, melainkan negara," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement