Jumat 31 Aug 2012 01:07 WIB

Hutan Indonesia Terancam Invasi Spesies Asing

Rep: Agus Raharjo/ Red: Dewi Mardiani
Penyusutan luas hutan akibat penggundulan dan konversi. (ilustrasi)
Penyusutan luas hutan akibat penggundulan dan konversi. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keberadaan hutan di Indonesia bukan hanya menghadapi masalah penyempitan lahan. Namun, hutan yang menyediakan banyak spesies asli hutan kawasan tropis juga menghadapi ancaman invasi spesies asing.

Saat ini, keberadaan 'alien spesies' atau spesies yang bukan asli dari hutan setempat dinilai sudah mengerikan. Pasalnya, keberadaannya sudah banyak yang menggantikan spesies lokal. Bahkan, masyarakat sekarang menganggap spesies asing tersebut sebagai spesies lokal Indonesia. Hal itu menyebabkan banyak spesies asli, baik tumbuhan maupun hewan yang sudah tergerus keberadaannya bahkan sampai hilang. 

Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan, Adi Susmianto, mengungkapkan hampir semua kawasan hutan di Indonesia sudah tersentuh tanaman asing. Di Baluran, tempat yang menjadi proyek pengendalian invasi spesies asing di Indonesia, bahkan sudah hampir 50 persen kawasan hutannya diinvasi oleh 'alien spesies'.

"Di Baluran, malah sudah hampir 50 persen invasi spesies asing yang masuk," ungkap dia di sela peluncuran program 'Removing Barriers to Invasive Species Management in Production and Protection Forest in South East Asia-Indonesia', Kamis (30/8).

Adi menambahkan, di Baluran, Jawa Timur sendiri tumbuhan asing paling invasif adalah jenis Akasia. Akibat invasi tersebut, banyak tumbuhan lokal yang terancam punah. Tak hanya itu, dampaknya pun ke keberadaan Banteng saat ini tinggal sedikit. Berdasarkan perhitungan terakhir, jumlah Banteng di Baluran tersisa sekitar 45 ekor. Padahal, dulu Banteng di lokasi tersebut jumlahnya ratusan.

Dampak terbesar dari invasi spesies asing, tambah Adi, adalah berubahnya kondisi hutan lokal di Indonesia.  Menurut Adi, ada kecenderungan hutan di Indonesia berubah menjadi hutan wilayah Afrika. Jika sudah berubah, kata Adi, pengembalian kondisi hutan seperti sedia kala akan membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. "Ini adalah perang alami, perambahan oleh spesies," tegas Adi.

Untuk mengantisipasinya, tambah Adi, yang paling bagus adalah dengan menghadirkan spesies pemangsa dari 'alien species'. Namun, pemangsa yang didatangkan juga harus berasal dari spesies lokal. Sebab, jika menggunakan spesies asing, lagi dimungkinkan akan menjadi spesies yang akan menggantikan peran invasi spesies sebelumnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement