Selasa 03 Apr 2012 14:13 WIB

BBM Urung Naik, Masyarakat Tetap Susah, Kok?

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sembako di pasar tradisional (Ilustrasi)
Foto: infogress.com
Sembako di pasar tradisional (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -  Meskipun harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak jadi naik,  harga kebutuhan pokok yang sudah terlanjur naik dengan adanya isu kenaikan BBM sulit kembali turun, demikian  Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X kepada wartawan di Kepatihan Yogyakarta, Selasa (3/4). 

Yang jelas,  kata Sultan, walaupun tidak ada gejolak masyarakat, masalahnya  harga barang kebutuhan pokok  tetap tinggi dan tidak mungkin turun. ''Saya kira baik atau buruknya tidak adanya kenaikan BBM , yang tahu hanya mereka yang merancang APBN Pemerintah Pusat ," tutur dia

Rakyat mengeluhkan tingkat harga-harga yang ogah turun lagi. Pengusaha  roti Fatma Arief Fianti mengaku deg-degan dan justru merasa susah  dan tidak nyaman karena BBM tidak  jadi naik 1 April lalu.  ''Hal ini juga dikeluhkan oleh teman-teman pengusaha makanan lainnya. Karena sekarang harga semua bahan kebutuhan pokok seperti gula, mentega, cabe, minyak  goreng dan lain-lain sudah gila-gilaan. Ini pasti ulah spekulan.  Nanti kalau BBM naik, tentu harga barang-barang akan semakin naik lagi. Kondisi ini sangat mengacaukan cash flow kami,''tutur dia.

Ketua LOS (Lembaga Ombudsman Swasta) DIY Siti Rohmani  juga mengakui, penundaan kenaikan BBM tetap tak berpengaruh pada harga kebutuhan pokok yang sudah naik akibat isu kenaikan BBM .  Ada dua penyebab kenaikan harga kebutuhan pokok akhir-akhir ini yakni akibat ulah spekulan yang memanfaaatkan isu kenaikan BBM dan karena akibat musim sehingga produk pertanian seperti cabe, tebu tidak bisa dipanen dan menjadi langka.

''Namun menurut saya justru bisa jadi ulah spekulan yang paling banyak berpengaruh terhadap naiknya harga bahan kebutuhan pokok. Karena itu pemerintah memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan dan perlindungan terhadap masyarakat,'' desak Siti.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement