REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Energi alternatif disebut-sebut bisa memperkaya pilihan masyarakat dalam memilih bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Menurut pemerintah, agar energi alternatif tersebut dapat berkembang, harga BBM bersubsidi harus naik.
Asisten Staf Khusus Wakil Presiden, DR Denni Puspa Purbasari, menyatakan kenaikan harga BBM bersubsidi dapat melanggengkan konservasi energi lain yang berpotensi menjadi tambahan pilihan bagi masyarakat pengguna kendaraan bermotor.
Logikanya, kata Denni, bila harga BBM bersubsidi naik, maka potensi masyarakat untuk pindah ke energi alternatif yang memiliki harga lebih murah akan semakin besar.
"Namun, bila BBM bersubsidi harganya Rp 4.500 sedangkan energi alternatif harganya Rp 4.300, orang pun enggan berpindah, karena nggak nendang perbedaannya," urai Denni pada diskusi bertajuk "Belajar dari BBM" di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (31/3).
Lebih lanjut, Denni mengatakan kenaikan harga BBM dapat menjadi pondasi bagi kelanggengan konservasi energi alternatif lain seperti Bio Diesel dan Bio Fuel. Dengan kenaikan harga itu, masyarakat jadi memiliki banyak pilihan untuk bahan bakar yang akan digunakan.
Sementara itu, terkait penundaan kenaikan harga BBM hingga kira-kira enam bulan ke depan, Denni, menyatakan, akan ada dampaknya. Menurut dia, APBN akan membengkak lantaran membiayai subsidi bahan bakar yang harga pokoknya kian meningkat di dunia internasional. "Bila itu terus terjadi, maka potensi utang negara pun akan terus bertambah," ujar Denni kepada wartawan.