Selasa 27 Mar 2012 13:33 WIB

Mukernas, PKS Tegaskan Tolak Kenaikan BBM

Rep: Ahmad Reza Safitri/ Red: Hafidz Muftisany
Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq
Foto: antara
Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan tetap menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal itu lantaran dengan naiknya harga BBM, maka akan turut mendongkrak harga-harga lainnya. Karena itu, dipastikan sebanyak 78 juta lebih penduduk Indonesia akan menderita.

Hal tersebut diungkapkan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq saat membuka acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) 2012, di Medan, Selasa (27/3). Padahal, lanjut dia, masih terdapat pilihan-pilihan lain ketimbang menaikkan harga BBM. Dalam hal tersebut PKS telah memberikan pilihan-pilihan yang dapat dijadikan solusi bagi pemerintah. “Solusi-solusi itu telah kami sampaikan kepada pemerintah,” kata Presiden.

Dalam menetapkan solusi-solusi tersebut, Luthfi mengatakan pihaknya telah melakukan kajian secara mendalam dan serius. Seperti gejolak yang terjadi di masyarakat dan penyesuaian anggaran yang dapat diterapkan pemerintah.

Menurut Luthfi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan pemimpin yang bisa mempertimbangkan masukan-masukan. Sehingga usulan yang berkembang baik dari PKS maupun masyarakat, dapat menjadi formula yang bisa dijadikan sebagai solusi.

Pihaknya mengingatkan, bahwa jabatan yang saat ini diemban presiden atau pun menteri, merupakan amanat yang diberikan oleh rakyat. Karena itu, kemauan dan kebutuhan rakyat harus menjadi tujuan utama dalam menjalankan roda pemerintahan. “Jika pemerintah tetap memaksa untuk menaikkan BBM, dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kendati demikian, Luthfi mengakui jika pengambilan keputusan menjadi kapasitas pemerintah. Selain itu, pihaknya juga menolak anggapan jika sikap dan masukan yang diambil PKS merupakan tindakan memaksakan kehendak. “Kami tidak memaksa. Kami hanya menawarkan solusi,” kata dia

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement