REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahmadiyah menjadi isu yang cukup sensitif di Indonesia. Muslim di Inggris pun ikut memperhatikan hal tersebut. Terlebih ketika terjadi insiden kekerasan beberapa bulan lalu.
Tapi, bagaimana dengan sebaliknya? Bagaimana dengan isu Ahmadiyah bagi Muslim Inggris. Apakah isu tersebut sensitif? Ternyata tidak.
"Ahmadiyah bukan isu penting di Inggris," kata Julie Siddiqi, tokoh Muslimah Inggris, dalam diskusi 'Muslim Life in UK' yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Timur Tengah UI, Rabu (26/10). Times menobatkan Direktur Eksekutif Islamic Society of Britain ini sebagai salah satu dari 100 pemikir Islam paling berpengaruh di dunia.
Menurut Julie, masih banyak isu yang lebih penting ketimbang mengurusi perbedaan antara Islam dan Ahmadiyah, bagi masyarakat Inggris. Isu itu seperti pendidikan, narkoba, kemiskinan, dan banyaknya kaum Muslim yang menganggur.
Saat ini ada sekitar dua juta Muslim di Inggris, dari total penduduk Inggris yang berjumlah 60 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, pengikut Ahmadiyah hanya 30 ribu orang. Sementara jumlah masjid di Inggris ada sekitar 500.
Julie mengakui, tetap ada masyarakat Muslim yang menginginkan isu perbedaan ini diangkat lebih luas dan lebih tegas. Hal ini sempat ditegaskan dalam pertemuan komunitas di beberapa kota. Namun pada komunitas itu, Julie menegaskan isu Ahmadiyah hanya isu kecil ketimbang isu sosial kaum Muslim di Inggris.
Julie mengatakan, Muslim dan masyarakat Inggris harus saling mendekatkan diri dan saling memahami. Dengan demikian perbedaan pandangan yang kerap terjadi di antara mereka bisa hilang. Ini adalah isu utama kaum Muslim di Inggris.
Tokoh komunitas Muslim Inggris lainnya, Maqsood Ahmed, menambahkan, pemerintah Inggris tidak ikut campur dalam isu Ahmadiyah. Secara pribadi, Ahmed mengaku sempat membaca soal kerusuhan Ahmadiyah Indonesia di Inggris.
"Tidak ada kekerasan dengan Ahmadiyah di Inggris, dan setiap warga negara berhak dilindungi oleh pemerintah dalam hal kekerasan itu," kata Ahmed yang juga senior Advisor on the Faith Communities Division Department of Communities and Local Government.
Secara pribadi pun, Ahmed mengaku tak mempermasalahkan perbedaan Ahmadiyah. "Bagi saya itu hak mereka. Mereka bertanggungjawab pada dirinya masing-masing dan Tuhannya, tidak terhadap saya kok."