Ahad 16 May 2010 20:21 WIB

Sensus Penduduk Khusus Tunawisma Diwarnai Ketegangan

Sensus penduduk
Sensus penduduk

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG--Sensus penduduk 2010 khusus tunawisma di Kota Semarang yang dilakukan puluhan petugas sensus dari Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Tengah, Ahad dini hari WIB (16/5), diwarnai ketegangan.

Ketegangan terjadi saat petugas melakukan sensus penduduk khusus tunawisma di Jalan Wahid Hasim Semarang atau yang dikenal dengan nama kawasan Kranggan.

Seorang tunawisma yang diketahui bernama Tarno, asal Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, tersebut terlihat terkejut ketika didatangi petugas untuk dimintai data-data yang diperlukan.

Tidak lama kemudian, tunawisma yang baru dibangunkan dari tidurnya tersebut mengambil alat yang disebut 'ganco, yakni sepotong besi melengkung yang biasa digunakan untuk mengais barang-barang bekas serta langsung mengacungkannya ke arah petugas dan wartawan yang meliput.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, beberapa petugas sensus terpaksa meringkus yang bersangkutan dan merebut 'ganco' yang dibawanya.

Dalam sensus penduduk khusus tunawisma ini, petugas sensus yang jumlahnya terbatas tersebut dibagi menjadi tujuh tim dan disebar ke sejumlah penjuru Kota Semarang.

Dengan sikap sopan, petugas sensus menanyakan data-data yang diperlukan untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia.

Kepala BPS Jateng Lukito Praptoprijoko yang ikut dalam sensus tersebut mengatakan, ada beberapa kendala yang dihadapi pihaknya saat melakukan sensus penduduk khusus tunawisma ini.

"Kendala dari petugas sensus adalah kesulitan mengetahui posisi di mana para tunawisma tersebut berada dan dari sisi responden yaitu kesulitan berkomunikasi serta kemungkinan rasa takut menghadapi petugas," katanya.

Menghadapi kendala tersebut, kata Lukito, petugas sensus telah diberi pelatihan dan pemahaman agar dapat melaksanakan tugas-tugasnya.

Menurut Lukito, yang membedakan sensus khusus tunawisma dengan sensus penduduk yang bertempat tinggal tetap hanya pertanyaan yang diajukan cukup sederhana.

"Kalau dengan masyarakat yang bertempat tinggal tetap, kami mencoba mencari tahu hampir semua karakteristik terkait kependudukan, sedangkan pertanyaan yang diajukan dalam sensus khusus tunawisma ini hanya menyangkut nama, umur, tempat asal dan jenis kelamin," jelas Lukito.

 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement