Rabu 15 Nov 2023 19:48 WIB

Bahan Bakar Akhirnya Diizinkan Masuk Gaza

Bahan bakar tersebut akan dikirim ke badan PBB untuk memfasilitasi pengiriman bantuan

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza melintasi gerbang perbatasan Rafah, di Rafah, Mesir, Sabtu (21/10/2023).
Foto: AP Photo/Hatem Ali
Truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza melintasi gerbang perbatasan Rafah, di Rafah, Mesir, Sabtu (21/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Sebuah truk bahan bakar memasuki Gaza melalui perbatasan Rafah dari Mesir pada Rabu (15/11/2023). Bantuan jenis ini merupakan pengiriman pertama sejak perang Israel-Hamas dimulai pada 7 Oktober.

Sebuah sumber di Mesir mengatakan kepada Al Qahera News, bahan bakar tersebut akan dikirim ke badan PBB untuk memfasilitasi pengiriman bantuan. Tindakan ini dilakukan setelah truk-truk di pihak Palestina berhenti beroperasi karena kekurangan bahan bakar.

Baca Juga

Saksi mata di perbatasan Mesir mengatakan, dua truk lagi menunggu untuk melewati penyeberangan tersebut. Namun, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan pihaknya tidak dapat mengkonfirmasi pengiriman yang dilaporkan tersebut.

“Tidak ada bahan bakar yang masuk ke Gaza sejak 7 Oktober. Jika ada perubahan, UNRWA akan memberikan informasi terkini,"  kata direktur komunikasi badan tersebut Juliette Touma dikutip dari Alarabiyah.

Badan kementerian pertahanan Israel yang menangani urusan sipil Palestina COGAT telah mengatakan sebelumnya, bahwa truk PBB yang mengangkut bantuan kemanusiaan melalui penyeberangan Rafah akan diisi bahan bakar di penyeberangan Rafah, sesuai permintaan Amerika Serikat (AS).  PBB telah memperingatkan pada Senin (13/11/2023), bahwa operasinya akan berhenti dalam 48 jam ke depan.

Bencana itu bisa dihindari jika UNRWA dapat mengisi bahan bakar truk yang telah mengangkut bantuan kepada ratusan ribu warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal akibat pemboman Israel yang tak henti-hentinya. “Sulit dipercaya bahwa lembaga-lembaga kemanusiaan harus mengemis bahan bakar dan beroperasi dengan bantuan alat bantu hidup,” kata Ketua UNRWA Philippe Lazzarini dalam sebuah pernyataan sehari berikutnya.

“Sejak awal perang, bahan bakar telah digunakan sebagai senjata perang dan hal ini harus segera dihentikan," ujarnya.

Serangan Israel melalui udara dan darat telah menewaskan 11.320 orang, sebagian besar warga sipil, termasuk ribuan anak-anak. Badan-badan bantuan telah berulang kali menggarisbawahi betapa mendesaknya kebutuhan akan bahan bakar yang digunakan untuk menggerakkan generator rumah sakit dan memurnikan air minum.

Kementerian Kesehatan mengatakan kekurangan bahan bakar telah memaksa penutupan semua rumah sakit di Gaza utara. Rumah Sakit Al-Shifa menghadapi kondisi puluhan pasien perawatan intensif telah meninggal sejak rumah sakit tersebut kehabisan bahan bakar. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement